Kamu di mana?

Waktu aku hanya mencintai kamu saja, kamu di mana? Waktu aku hanya menunggu kabar kamu saja, kamu di mana? Waktu aku tidak sedikit pun berpaling dari kamu, kamu di mana? Waktu aku hanya meminta waktu dari kamu, kamu di mana?

Apa dulu pernah kamu terbayang betapa susah bertahan dengan mu itu? Terbayangkah kamu berapa banyak hati yang aku sakiti hanya demi kau? Lalu teringat kau akan aku waktu kau takut menyakiti hati-hati perempuan yang wajahnya saja tak pernah kau lihat secara langsung itu. Pernah terbayang kau tentang betapa hancur hati ku saat tau kau bertemu orang yang namanya saja aku tak mau dengar. Pernah?? 

Laki laki selingkuh dengan mata. Terlalu sering. Perempuan selingkuh dengan hati. Kalau ditanya masih kah aku sayang denganmu. Masih. Tapi aku tidak mau lagi merasakan apa yang sudah sering sekali aku rasakan dulu, berkali-kali. Sampai aku sudah tak tau lagi harus bagaimana agar kau mengerti sakitnya. 

Jangan mengobrak abrik hati yang sudah susah payah ku susun kembali ini. Tertatih untuk percaya lagi. Masanya sudah selesai. Semoga kau bertemu dengan perempuan yang menerima apa adanya kamu. Bertahan dengan mu sesusah apapun keadaannya. Bagi ku sudah cukup. Aku tidak bisa kembali lagi. 

Kau tidak mengambil kesempatan untuk menjaga perasaanku selagi aku masih milikmu. Hanya aku yang terus terusan disuruh mengerti. 

Kau lupa bahwa aku juga bisa memilih. 

Akhir dari meragu

Setelah hampir dua bulan ini otak mu sudah tidak ada bentuknya, dipakai terus, disuruh bekerja terus. Setelah jauh-jauh mencari jawaban akhirnya hanya mendapat “Yang mana duluan saja” , akhirnya tibalah saatnya, saat otak mu bisa istirahat. Kasihan. Akhirnya bisa berpikir jernih kembali. Sedikit sekali pemicunya. Kabar.

Dia.

Susah berubah.

Masih dengan kebiasaanya.

Menghilang.

Ditunggu.

Tanpa kabar. 

Dan itu.

Rasanya sangat tidak mengenakkan.

Ingat lagi kan?

Ya, memang bukan kamu orang yang tepat untuk bersamanya. Bukan orang seperti kamu. Bukan kamu.

Andai

Kadang, sepintas ku ingat seberapa jauh kita sudah melangkah bersama. Kadang pula teringat di setiap langkah itu tak selalu bahagia namun kita tetap bersama. Seberapa sering aku pergi, kau tetap di situ. Seberapa sering kau pergi, aku tetap menunggu. Begitu terus. 

Ku kira kita sudah tidak bisa melihat orang lain. Ku kira kita sudah tidak bisa tertarik pada orang lain. Ku kira aku tak akan pernah bisa membiarkan masuk, orang lain.

Laki-laki selingkuh lewat matanya. Perempuan selingkuh dengan hatinya. Itulah mengapa laki-laki akan kembali, namun perempuan, seringnya, tidak.

Andai, andai waktu itu aku bersabar sebentar lagi. Sedikit lagi, setitik darah lagi untuk mu. Mungkin hati ku tak akan seberat ini. Mungkin aku, bisa tertawa bersama mu lagi. Tanpa harus merasa menyakiti orang lain. 

Andai, andai waktu itu kau.. ah sudahlah. 

Sebentar lagi kau sudah kembali ke kehidupan normalmu. Kau akan kembali bertemu teman-teman mu. Kau juga sudah lulus kuliah. Kau tak akan kesepian lagi. Mungkin tugas ku sudah cukup sampai di sini. Menemani mu sampai sini. Mengantarmu ke titik ini. Ruang kosong yang saat ini ada karena kehilangan ku akan segera dipenuhi dengan duniamu lagi. 

You deserve better. I’m sorry, i can’t be a good home for you. But i know, you are strong. 

With or without me. 

Nyaris

Dindra

Saya mengenal Dindra tidak dalam waktu yang lama. Pertama kali berkenalan dengannya di lapangan parkir kampus. Lucu sekali. Saat itu baru saja selesai jam perkuliahan.

“Kenalin, Dindra”

Saya tidak menyentuh tangannya saat dia menyerahkan tangannya untuk berjabat tangan, yang kemudian dia jadikan momen ini sebagai hadiah ulang tahun. Patung perempuan dan laki-laki berhadap-hadapan sedang berkenalan.

Bagi saya, perkenalan itu biasa saja. Hanya perkenalan antar teman baru di kelas baru. Saya pulang. Dia pulang. Esoknya, teman saya yang juga temannya bertanya apakah dia boleh memberi kontak saya pada Dindra. Tentu saja boleh. Saya sudah pernah bilang ya kalau saya terlahir dengan tingkat GR 0%? Iya sudah rasanya. Mungkin nanti bisa sekelompok, mungkin penting, kenapa harus tidak mengizinkan? Bahkan username Facebook dan Twitter saja sudah mudah didapatkan.

Saya lupa pertama kali dia menghubungi saya itu bagaimana, tapi semenjak dia punya nomor HP saya, sering sekali dia menelepon. Seperti minum obat. Tapi karena dia lucu, saya merasa nyambung ngobrol dengannya dengan segala keusilannya. Saya memang lemah dengan pria yang frekuensi humornya sama dengan saya. Dindra ini sangat iseng. Dia sering sekali mengerjai teman-teman sekelasnya, bahkan dosen di kelas saya. Kadang saya rasanya ingin sekali menoleh ke belakang untuk bilang “Sudah.. kasihan Bapaknya”. Salah satu bentuk keisengan yang paling iseng menurut saya adalah membuat clan bernama “Ocha Marocha Fansclub” di game yang saat itu sangat populer.

Percakapan saya dan Dindra pun terbilang cukup aneh.

” Kamu sudah berapa orang kelompoknya?”

“5 orang tapi masih kurang”

“Kalau kurang aku ikut ya”

“Haha jangan nakal tapi ya”

“Nakal itu definisi nya gimana? Batas kenakalan yang diperbolehkan sampai mana?”

“Jangan salto kalau lagi kerja kelompok”

“Hmm.. kalau pipis sambil kayang, boleh?”

“Hmm asal di kamar mandi, boleh.”

“Kalau di kebun?”

“Asal gak ada yang liat sih gapapa”

“Lebih greget ditonton”

Ada lagi. Yang seperti ini

“Dinda, udah bisa belum tugasnya?”

“Salah sambung ya?”

“Nggak.. beneran”

“Seriusan?”

“Iya..”

“Yaudah, aku juga serius sama kamu”

Ngobrol dengan Dindra membuat waktu terasa begitu cepat, karena banyak sekali keisengan dan humor-humor yang selalu membuat saya tertawa, walau kadang ada sebalnya juga. Yang saya heran adalah, biasanya pria yang mendekati saya dalam waktu sehari dua sudah menyatakan rasanya. Dia berbeda. Dia hanya menggoda. Sebatas itu. Karena dia tidak menyatakan perasaannya, saya jelas akan terus berteman dengannya karena tidak merasa bahwa pertemanan ini berbahaya bagi hubungan saya. Iya saya sudah punya pacar waktu itu. Kenapa saya selalu punya pacar di setiap cerita saya ya? Entahlah.

Sampai suatu ketika, Dindra mengajak saya untuk berbicara setelah UAS. Karena setelah itu perkuliahan libur, mungkin dia lebih leluasa untuk menyatakan, pikir saya. Malam itu, saya dan Dindra memutuskan untuk berbicara di sebuah resto di dekat kampus. Pertama, masih seperti biasa. Dia mengeluarkan lelucon-leluconnya. Sampai akhirnya dia bertanya pada saya.

“Kamu punya pacar?”

“Kalau punya kenapa, kalau tidak kenapa?”

Mungkin dia kesal dengan jawaban saya, dia menyentil dahi saya, sambil berkata “Dasar!”

Sebenarnya dia sudah tau saya punya pacar. Istilah dinding berbicara itu benar adanya. Teman saya memberi tahu temannya Dindra kalau saya sudah punya pacar. Dia hanya, mengetes?

Kemudian dia lanjut berbicara sambil memperlihatkan sebuah foto di HPnya. Di sana ada tiga anak kecil dan dia sedang tertawa di dalam mobil.

“Kamu lihat ini? dua ini keponakan saya.”

“Yang satunya anak mu, gitu?”

“Iya.”

…..

Karena jujur saja saya tidak tahu dia serius atau bercanda, saya teruskan saja dengan menggodanya.

“Ohh… dari istri yang mana?”

“Serius, ini serius, itu anak ku. Hak asuh di aku”

Baiklah. Yang ada di otak saya saat itu hanya terus berbicara agar tidak kaku. Padahal otak saya mulai kacau. Pulang dari sana, saya hanya bisa tertawa. Lucu sekali. Saya hampir jatuh pada seorang Bapak.

Sejak hari itu, saya tetap berteman dengan Dindra. Statusnya tidak akan membuat saya menjauh. Buat apa? Tapi seperti ada batas di situ. Sebaik apapun dia, dia tetap teman. Tapi, ya jujur saja. Nyaris sekali. Nyaris. Sedikit lagi. Saya ini lemah dengan pria yang memiliki frekuensi humor yang sama dengan saya. Itu saja. Simpulkan saja sendiri nyaris apa.

p.s : Kesamaan nama dan kisah? ah kebetulan saja. Jangan dipikirin dan dicari tau, apalagi diambil hati. Kay?

 

Ya kamu

Untuk kamu, terima kasih ya. Hadirmu bukanlah sebuah keterpaksaan. Yakinlah ini bukan karena kasihan apalagi sesuatu yang mungkin sekarang kamu pikirkan. Itu tidak benar.

Tetaplah jadi kamu yang seperti ini. Jangan berubah. Walau aku mungkin akan hilang beberapa jam tanpa kabar, atau beberapa hari saat marah jangan takut aku akan pergi. Apalagi kembali. Tidak, sayang. Aku hanya sedikit terdistraksi dari kehidupan yang tidak ada kamu di dalamnya. Seperti bermain bersama teman atau menonton acara televisi. Biar rasa rindu itu tumbuh dan ingin segera bertemu kembali denganmu. Sudah lama aku tidak melihat wajahmu, bukan?

Melihat mu saat ini seperti melihat ku dulu. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Percaya pada ku. Aku tidak sebrengsek itu. Apalagi pada mu. Tega sekali aku.

Tunggu aku ya. Yakinlah aku tidak seburuk pikiran mu. Apalagi kata-kata orang itu. Jangan dengarkan. Kalau ada yang bilang aku begini dan begitu, jangan dihiraukan. Jangan biarkan mereka merusak rindu yang sudah kita tumpuk lama ini. Jangan.

Sebentar lagi kita akan bertemu, aku rindu suara mu. Aku rindu senyum dan tawamu. Aku rindu cara mu melihatku. Percayalah, aku ini rindu. Aku akan tetap pada mu apapun yang terjadi nanti. Jangan ragu pada ku.

Kadang, seseorang hanya butuh tempat kembali. Dan tempat kembali ku saat ini, ya masih kamu.

Simfoni Kemarahan

Hitam kelam duniaku saat itu, burung-burung berhenti berkicau di hari ku. Pohon-pohon kehilangan daunnya. Sunyi, sepi. 

Hanya ada suara detak jantung dan teriakan dalam diam. Waktu ku terhenti di malam itu. Jiwa ku terenggut. Hati ku mati. 

Mau marah sama siapa? Bingung ku sendiri. Tercabik kenyataan yang sudah menahun ku yakini dalam hati. Terbunuh oleh setiap elusan jari di layar kecil ini. Membeku tubuh ku sementara darah ku mendidih.

Bunuh. Bunuh saja aku yang tak ada artinya ini.

Pieces

You know, why some pieces can not fit together? because they are the same. Like us.

We are those same pieces. How could we fit together if we have the exact same size and curve? and no one wants to change its curve for the other half.

You and i knows each other too damn well, cause you know what’s inside my head and for sure i know what’s inside your head. When you did something and make up a reason, i know deep down what you’re hiding. And You do too.

Sometimes, what comes around goes around. Sometimes we share the same moment. Like we live in a parallel universe. Let me help you understand, when you did something, i did it too. When something happened to you, it happened to me too. And what comes to you, comes to me too. Something like that.

This time, i don’t know what you did or what comes near you that cause me to encounter this condition. So, dear. For this time. Let me be you. And feel it. How does it feel to hear something that i won’t do but deep down you know i’ll do it. Let me filled with the way you think and the way you do.

Cause we are exactly the same pieces. Therefore we always try to seek another chance to find the other pieces that will fit us while waiting each other to sacrifice, to change.

isn’t it? nope?

p.s :

Jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka perbaiki, pantaskan diri masing-masing selagi menjemput jodoh kalian yah guys *ting