DUNIA

Sebuah cerpen karya Reny Fatria

“Dia memandang dunia yang membosankan untuk terakhir kalinya, masuk ke dalam kegelapan hati yang merasuk sukmanya.”

Menjelang subuh itu, ketika dekapan tidak lagi menyembuhkannya, dia memutuskan untuk pulang kerumah. Jam di tangannya menunjukkan pukul 4 pagi, dia mengerti benar bahwa pintu takkan terbuka untuknya. Kemudian dia teringat sesuatu, dahan pohon jambu yang menjorok kearah jendela kamarnya. Dia pun memanjat, tak pedulikan luka tangannya yang tadi bergesekan dengan ranting. Dia berbisik dalam hati,

“Ah, akhirnya sampai juga.” Namun kenyataan menusuk matanya yang jernih, seolah dosa tak pernah menghampirinya, jendela kaca gesek dan transparan itu tak sepenuhnya tertutupi gorden biru yang ibunya rajut sendiri. Dia terluka, menyaksikan sang ibu berdua, bercumbu rayu dengan pria yang tidak asing baginya, temannya, sahabat terbaiknya, dan mungkin juga cintanya, yang dia tahu tapi tak pernah dia akui.

___________________

Pagi itu, ketika ibunya memasak sarapan, nasi goreng ati kesukaannya, dia mengetuk pintu dengan berat, namun pikirannya bekerja keras, memikirkan sejuta alasan kenapa dia tidak pulang. Ibunya membuka pintu, menatapnya seolah penuh kecemasan, dan bertanya, “Dari mana saja kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak memberitahu ibu? Ibu terus menerus mencoba menghubungi handphonemu, tapi tidak aktif, selalu saja veronica yang menjawabnya”

Ia tersenyum tapi tak bimbang,

“Andi menginap di kosan teman, bu. Hape andi lowbat, di sana tidak ada telpon, jadi andi tidak bisa menghubungi ibu..”

Sebenarnya dia ingin sekali mengucapkan kata maaf, tapi apa yang dia lihat tadi subuh, mengurungkan niatnya.

“Kamu kan bisa kasih tahu ibu sebelumnya, memangnya untuk apa kesitu?”

Dalam hati dia berkata, “Memangnya apa yang ibu lakukan tadi subuh?”

“Tugas kuliah bu. Tidak taunya sudah malam, makanya andi menginap disitu.”

“Ya sudah, kamu sudah mandi atau belum? Kalau belum, ayo mandi. Ibu tadi masak nasi goreng ayam buat kamu.”

Langkah kakinya terasa berat di tangga yang menuju kamarnya. Dia melihat tempat tidurnya begitu rapi dan menyentuhnya. Indra sentuhnya mendeteksi kehangatan, mungkinkah karena ada api yang membara, telah membakarnya? Dia tidak mau tahu. Air  dikamar mandinya dia gunakan untuk mendinginkan kepalanya. Diapun merasa kesal karena kepalanya tidak kunjung dingin. Airpun sampai pada dadanya yang bidang, dan membasuhnya dengan tangan, yang pernah dia pakai untuk memukuli ayahnya, dia tahu dia dalam keadaan terluka saat merasakan pedih,

“Tanganku..Sial” ujarn

Dia mendapati ibunya di dapur, yang dulu, sewaktu dia masih kecil, dia selalu melihat ayahnya menciumi tengkuk ibunya setiap pagi. Otaknya merangsangnya untuk kembali pada peristiwa 5 tahun yang lalu, 2 hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-18. Hari itu, hari yang takkan pernah dia lupakan, ayah, yang selalu dia banggakan, hormati dan cintai, duduk berdampingan di sebuah café dengan seorang wanita yang dia yakini sebagai sekretaris ayahnya. Mereka, dengan bahagianya, makan berdua. Bahkan sesekali ayahnya melemparkan senyuman kemudian mengecup pipinya yang putih bersih. Darahnya mendidih mengingat ibunya, yang penuh pengabdian pada keluarga. Terkhianati!. Langkahnya semakin cepat, mendekati ayahnya, menyeret ayahnya ke lantai café itu dan memukulinya.

Nasi goreng ayam yang dia makan begitu cepat membuatnya tersedak. Ibunya berkata,

“Pelan-pelan”

“Di, hari ini ibu ada rapat guru. Mungkin ibu akan pulang sore, jadi sebaiknya kamu bawa kunci rumah ya”

Dia cuma mengangguk.

_______________________

Siang itu, di kampus, dia bertemu gadis yang terus mendekapnya semalaman. Yang membawanya pergi meninggalkan dunia, pergi ke langit ketujuh. Namun tak membuatnya merasa puas, karena hatinya tetap saja merasakan hampa.

“Di, bagaimana kalau nanti kita sama-sama merengkuh malam?”

Gadis itu selalu berbicara dengan puisi padanya, layaknya memamerkan diri bahwa dia mengambil jurusan sastra.

“Gadis bodoh!” pikirnya dan dia hanya tersenyum.

Matanya mencari jejak Ryo dan menemukannya dalam balutan kaos oblong hitam dan jeans biru. Ryo, sahabatnya sedari SMA, selalu menakjubkan dan memukaunya. Ryo mengajaknya masuk ke ruang kuliah dan menikmati mata kuliah kalkulus, yang tidak pernah membuatnya lulus. Ryo yang duduk disampingnya lebih menarik untuk dinikmati daripada semua mata kuliah yang ada. Ryo memberikan secarik kertas yang berisi coretan tangannya, “Ada yang ingin kubicarakan, PENTING!”

______________________

Nyanyian Ryo begitu merdu seperti nada-nada yang bersambung dengan teratur, lidahnya, gerak bibirnya mencerminkan ketenangan. Dia jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada orang yang berada dihadapannya. Di ruangan kos itu, tempat dia bermimpi menyentuh setiap inchi tubuh Ryo yang seperti dengan sengaja diciptakan hanya untuknya, dia mendapati jiwanya tenggelam bersama realisme cinta yang Ryo ungkapkan.

“Aku mencintai ibumu, dan tentu kau sangat mengerti cinta tak mengenal kelaziman juga dosa, tapi ibumu merasa sangat bersalah jika kau tidak mengetahui apapun. Dia sangat menyayangimu.”

Dia membenarkan semua yang Ryo katakan, cinta ibunya layaknya sepiring penuh pizza untuknya. Kemudian dia terhantam oleh masa depan yang membentang setelah ini, bahwa pizza itu akan terbagi dua.

“Di, ibumu nanti kemari. Dia ingin dengar dariku pendapatmu, jadi..”

“Apakah itu begitu penting?”

“Tentu saja, kau adalah orang yang kami sayangi”

Sayang? Kami?, dunia benar-benar tidak adil, pikirnya.

“Kau juga ibuku adalah orang-orang yang kusayangi”

Dia tidak percaya, dia memuntahkan sedimen yang begitu lama terpendam, tapi dia tahu kalau sedimen itu tidak boleh hidup dan terpencar, karenanya dia bangun bendungan dalam hatinya dan membiarkannya menjadi fosil-fosil yang tertanam dalam tanah.

______________________

Malam menjelang, ibunya tak kunjung pulang. Sayup-sayup terdengar suara dering telepon dari arah ruang tamu, diapun beranjak turun dengan gontai.

“Halo, siapa ini?”

“Di, ini ibu. Maafin ibu ya mungkin ibu pulang agak malam, soalnya rapatnya begitu seru, ada begitu banyak perbedaan pendapat yang harus disatukan.”

Sepertinya cinta juga membutakan akal sehat manusia, apakah ada rapat guru yang belum berakhir di jam seperti ini?

Dia merasakan kesuntukkan yang luar biasa pada kamarnya, rumahnya, sahabatnya, kekasihnya, ibunya dan dunia. Cinta yang tidak akan pernah kesampaian, menyakitkan. Peluh yang dia keluarkan bersama gadis sastranya, menjijikkan. Kasih sayang ibunyapun takkan sama, dia melolong pada malam, memberikan keluh pada dunia.

Keanoniman datang bersama kegelapan, seraya mengulurkan tangan mengajaknya ikut serta. Dia hanya terpana, menatap lekat bayangan jiwanya yang anonim. Rongrongan, raungan, terdengar berasal dari lukanya yang menganga, mengalirkan darah. Dia memandang dunia yang membosankan untuk terakhir kalinya, masuk ke dalam kegelapan hati yang merasuk sukmanya.

Palembang, 08-Oktober-2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s