Pujaan Hati

Cerpen Karya Reny Fatria

Duduk ia di sudut café itu, tempat ia biasa bertemu sang pujaan hati. Tak terasa air matanya mengalir biarpun tak sederas hujan di luar sana. Dibukanya hadiah yang tak sempat ia berikan, seekor kadal yang sangat langka. Kadal itu bergerak menjalari tangannya dan air matanya terus turun.

Anak-anak SMA yang tak memedulikan hujan, bersenda gurau di luar sana mengingatkannya pada pujaan hatinya.

Pagi hari di sekolah, kelas 3A yang sepi dan hening.

“Ryuuu…..ngapain kamu!!!” Ryu yang sedang merokok di kelas, terkejut, rokoknya mengenai tangannya, “Sialan lo Saki!”.

“Kuaduin sama guru. Baru tau rasa lo.”

“Silakan…aku aduin juga lo!”

“Aduin apa?Sama siapa?”

“Kuaduin sama Tuhan, semalam kita seperti hewan!”

“Enak aja!Yang hewan tuh elo.”

“Saki, darmawisata ntar kita ikut yuk.”

“Ngapain sih..”

“Kita kan bakal ke Puncak. Dinginnya malam..indahnya pemandangan dan Saki yang terlihat sexi dalam balutan bikini..wah seru tuh!”

“Ke Puncak pakai bikini!Gila lo ya!”

“Imajinasi adalah dunia tanpa batas, honey.” Ryu meraih tubuh Saki dan meremas payudaranya yang penuh.

“Jangan!Klo diliat orang gimana?Dasar eksibisionis sakit!”

___________________

Dia meminum jus strawberry yang dipesannya tadi, rasanya begitu manis sehingga dia mengernyitkan dahinya. Manisnya minuman itu tak dapat mengalahkan rasa pahit yang dirasanya.

Dua hari yang lalu di café yang sama, Saki menyeruput jus strawberry miliknya sampai habis, Ryu melihatnya dengan heran.

“Manusia ato bukan sih lo. Mana ada orang yang ngabisin minuman sekali tarikan napas kayak lo.”

“Ryu..”

“Apa?!Iya gue tahu tar gue cariin kadalnya buat lo seorang. Dasar cewek aneh!Pengen kadal sebagai hadiah ulang tahun, biasanya cewek tu suka yang romantisan, bunga kek, coklat kek..”

Saki tersenyum, “Gue…ya gue..”

_________________

Dimasukkannya kadal itu ke kotak. Ingin rasanya ia membunuhnya. Mencekik kadal itu sampai mati.

Dua jam sebelum ia duduk di café itu. Dia pergi ke tempat Saki, kamar kosnya tak terkunci, “Mungkin Saki lupa menguncinya.” Dibukanya pintu itu, pujaan hatinya tak terlihat. Duduk ia di tempat tidur, tempat favorit mereka berdua.

Ia mendengar suara dari dalam kamar mandi, “Oh..ternyata Saki lagi mandi ya.” Bisiknya dalam hati. Dengan cepat ia lepas jaketnya, kaosnya, jeansnya dan menerobos pintu kamar mandi yang tak terkunci.

Seorang pria sedang merengkuh tubuh pujaan hatinya dengan tangannya yang besar, tangan yang sama dengannya, tapi bukan dia.

“Ryu!!Ryu!!Dengarkan dulu penjelasanku.”, teriak Saki.

Ia berlalu.

___________________

Kadal itu menggeliat di dalam genggaman tangannya, berusaha mempertahankan hidupnya, “MATI!!MATI KAU!!MATI!!”

Dia melihat Saki memasuki café, berjalan menghampiri duduknya. Dengan mata yang penuh kemarahan tak tertahankan, dia menatap Saki dengan tajam.

“Ryu..Sepertinya aku bukanlah pujaan hatimu lagi.”

___________________

Jauh sebelum itu…

“Ayah!Ayah!” teriaknya. Ia menemukan ayahnya tertidur di ruang kerjanya. “Ayah!Ayah!Bangun yah, dia datang yah. Cepetan bangun dong, kenalan dulu yah.”

Dengan malas ayahnya membuka mata. Ia kemudian menarik ayahnya dan mengajaknya ke ruang tamu.

“Ayah kenalin, ni Saki, pujaan hatiku.”

Saki yang terlihat malu, menyodorkan tangannya, “Senang bisa bertemu dengan ayahnya Ryu.”

Tangan ayahnya yang besar menyalami Saki, tangan yang sama seperti dirinya.

Dan dilihatnya mata ayahnya yang sedang menatap Saki seolah ingin memilikinya.

                                                            Palembang, 16 November 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s