Trafalgar Square

Sebuah cerpen karya Reny Fatria

“Terkadang bukankah akan lebih baik kalau kita tidak mengerti,

membiarkan sesuatu tetap menjadi misteri dan selamanya sesuatu itu akan berurat, berakar dalam memori.”

Waktu London menunjukkan pukul 5 sore tapi kau masih asyik dengan matamu yang berkeliaran dalam setiap sudut National Gallery di Trafalgar Square. Langkahmu terhenti pada lukisan abstrak karya seniman Spanyol ternama, Pablo Picasso. Mesin dalam kepalamu bekerja dan berusaha memproses produk yang bernama kesimpulan, mengartikan maksud sang pelukis.

“Terkadang bukankah akan lebih baik kalau kita tidak mengerti, membiarkan sesuatu tetap menjadi misteri dan selamanya sesuatu itu akan berurat, berakar dalam memori.”

Kau terkejut, disampingmu telah berdiri seorang pria yang cukup menarik, kau menganggapnya begitu karena pria itu lebih tinggi darimu, begitu atletis dengan wajah yang akan membuat para gadis melirik. Rambutnya pendek, lurus tersusun rapi dengan warna hitam kelam dan berkilau seperti malam yang disinari oleh cahaya bulan tapi kaupikir hal itu mungkin karena minyak rambut yang dipakainya. Hidungnya mancung dan artistik layaknya pahatan patung-patung gips, bibirnya agak sedikit hitam, mungkin karena rokok dan kulitnya seperti matahari yang baru mau terbit. “Ah..terlalu banyak perumpamaan.”, pikirmu. Dia melihatmu dan bertanya,

“Kau orang Indonesia bukan? Karena rasanya aku pernah melihatmu di embassy.”

“Ah, ya.” Kau tergugup dan merasa malu.

Dia hanya tersenyum simpul, senyum simpul yang akan membuat semua bunga bermekaran dengan indah.

Pria itu bernama Hachi, dari sikapnya dan cara bicaranya yang begitu tenang kau berpikir pastilah ia telah berlatih Hachi tingkat tinggi.

“Rie, namamu bagus ya. Jadi berapa lama kau akan tinggal disini?”

“Summer course yang kuikuti akan selesai 2 minggu lagi, jadi..mungkin aku akan langsung pulang.”

“Sayang sekali.”

Kemudian dia mengajakmu bercakap-cakap mengenai banyak hal, seni, sastra, hobi, sampai peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di Indonesia.

Diapun ingin bertemu kembali denganmu di Trafalgar square di waktu yang sama di depan National Gallery.

______________________

Esoknya, ketika matahari hampir menutup mata, Hachi melangkahkan kaki ke depanmu dengan senyum simpulnya.

“Kau terlambat.”

“Maaf, tadi dosenku mencuri waktu.”

Hachi adalah mahasiswa sastra tingkat akhir di Oxford University, dia mengatakan padamu mungkin satu tahun lagi dia akan lulus dan setelah itu dia akan pulang ke rumah, rumah yang tidak ingin dia jadikan sebagai tempat pulang. Kaupun bertanya-tanya, kenapa. Hachi menatapmu seolah bisa membaca pikiranmu.

“Rumah itu adalah neraka, rumah yang begitu besar dengan banyak kamar penyiksaan.”

Kau mengernyitkan dahi dan Hachi menertawai ekspresimu. Candaan yang menurutmu sama sekali tidak lucu.

“Ayah dan ibuku bercerai, setidaknya itulah impianku. Ibuku sangat mencintainya atau takut kepadanya, aku tidak tahu dan tidak mengerti jalan pikirannya padahal sebutan ayah sangatlah tidak pantas dialamatkan untuk orang itu.”

“Setiap hari dia menebarkan kegelapan pada sekujur tubuh ibuku dan aku hanya diam tapi diam tidak berarti kalah karena aku telah membunuhnya, seribu bahkan sejuta kali dalam mimpiku.”

Pembicaraan 5 hari yang lalu bersama Hachi tidak bisa membuatmu memejamkan mata, setiap kali kau telah berada di alam bawah sadarmu, bola mata hitam Hachi yang penuh kebencian terus membayangimu, mengejarmu dan kaupun tersadar. Akhirnya kaupun memutuskan untuk menunggu Hachi di Trafalgar Square, ingin memastikan suatu hal yang kaupun tak tahu apa itu.

_____________________

Trafalgar Square di hari Minggu begitu ramai, sesak oleh orang-orang, kicau burung-burung merpatipun tak mau kalah ingin ikut mewarnai. Trafalgar Square adalah jantung kota London, di sisi selatan kau bisa berjalan ke Whitehall, dimana kau akan menemukan Buckingham Palace dan tidak jauh dari sana, Big Ben berdiri tegak dengan jam raksasanya untuk memberikan informasi waktu biarpun kau tidak memintanya. Seperti biasa kau menunggu Hachi di depan National Gallery di sisi utara Trafalgar Square, berharap kau akan menemukannya secara kebetulan.

“Kau mencariku?” Kau terkejut karena Hachi tiba-tiba telah berdiri dibelakangmu, dan kembali menertawai ekspresimu.

Hachi mengajakmu makan di café teras, dia menceritakan kegiatannya selama 5 hari ketika tidak bertemu denganmu, bagaimana professor-profesor kolot di kampusnya yang merasa mengetahui seluruh isi dunia telah membuatnya begitu muak. Kau mendengarkan cerita Hachi seperti membaca sebuah novel yang berdasarkan kisah nyata. Menatapnya membuat pikiranmu melanglang buana hingga ke tempat peraduan, yang akhirnya membuat dirimu tersipu-sipu.

Hachi sepertinya tidak memperhatikan gelagatmu, dia begitu asyik dengan ceritanya tapi berbeda dengan pengunjung-pengunjung café yang lain, yang menatapmu dengan pandangan membingungkan dan kaupun menjadi heran tapi kau segera mengambil kesimpulan bahwa saat ini kau sedang duduk berhadapan dengan pria yang memang menarik perhatian semua orang.

Tak terasa siang telah beristirahat, kau dan Hachi lalu duduk di kursi taman mengarah ke kolam besar Nelson, yang berhadapan langsung dengan National Gallery.

“Hachi, apakah selama kuliah disini, kau pernah pulang kerumah?”, tanyamu.

Raut wajah Hachi segera menunjukkan perubahan seolah menggambarkan peristiwa revolusi industri, dimana posisi manusia tergantikan oleh mesin.

“Pernah” jawabnya dengan dingin.

“Tapi tidak lama”

“Karena rumah itu sudah hancur seiring kepergian ibuku.”

“Maaf ” jawabmu dengan nada penuh penyesalan,

“Tidak apa karena aku berbahagia.”

______________________

Setelah itu kaupun tidak pernah bertanya lagi mengenai rumahnya maupun keluarganya. Kau telah selesai membaca novel yang berjudul “Hachi, jilid satu”, sekarang kau sedang membaca jilid keduanya dan kau tidak menginginkan cerita ini berakhir.

“Hachi, besok aku akan pulang, tapi aku ingin kita tetap bisa berhubungan lewat

e-mail.”

“Aku membenci teknologi, teknologi memperbudak manusia, mengurangi sosialisasi dan hanya akan membuat manusia jadi sama sepertinya, mesin-mesin tidak bernyawa.”

Kau hanya diam, karena kau tahu membantahnya adalah tidak mungkin, pria dengan idealisme yang begitu tinggi, tidak akan pernah kalah dalam perdebatan.

Kaupun beranjak dari dudukmu, mengulurkan tangan dengan maksud bersalaman. Hachi menyambut uluran tanganmu.

“Aku senang sekali dapat mengenalmu.”

Tiba-tiba Hachi menarikmu dan kaupun jatuh ke pelukannya. Dia memelukmu dengan erat sehingga kau dapat merasakan hangat tubuhnya.

“Tinggallah bersamaku di sini.”, ujarnya memelas.

Kemudian kau menarik dirimu dari pelukannya,

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Maaf.”

Hachi sepertinya begitu kecewa. Kau bergerak menjauhinya, yang tetap berdiri tegak di Trafalgar Square, sampai kau mendengar Hachi memanggilmu,

“Rie..” kaupun menoleh, melihat Hachi melambaikan tangannya, dan berseru, “Terimakasih.” Kau dengan segera membalas lambaian tangan itu.

Ketika kakimu membawamu lima langkah ke depan , kau berbalik arah memandang Trafalgar Square, berinisiatif mengingat Hachi untuk terakhir kalinya. Tapi malam dingin mencekammu, dan tubuh Hachi yang hangat tidak meninggalkan jejak. Apakah malam telah membunuhnya?

________________________

Pulang kerumah, merasakan udara Jakarta yang terkontaminasi sudah biasa bagimu dan hari ini, seperti hari-hari lainnya kau berebut tempat di Trans Jakarta. Kursi sepertinya tidak bersahabat padamu, menjauhimu dan memaksamu untuk berdiri.

“Hei! Rie, masih ingat aku kan? Maria, kita dulu satu kelas di SMP.”

“Ya ampun Maria, tambah cantik aja kamu. Mau kemana?”

“Kerja, kalau kamu?”

“Mau ke kampus.”

“Main ke rumahku ya..” seraya memberikan kartu namanya padamu,
“Oce deh.”

Tak terasa taksi sudah membawamu ke depan pagar rumah Maria. Rumah itu tak terlalu besar, dan sudah lebih dari cukup untuk di huni oleh 4 orang anggota keluarga karena seingatmu selain ayah dan ibu, Maria memiliki satu adik laki-laki yang mungkin sekarang sudah berumur 10 tahun. Kau membunyikan bel dan Maria sendirilah yang keluar untuk menyambutmu.

“Rie, ayo masuk…silakan duduk ya, aku ambil minum dulu.”

“Gak usah repot-repot.” katamu, mencoba berbasa basi.

Maria tetap pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untukmu.

Telingamu sepertinya menangkap suara jeritan dari salah satu kamar di rumah itu, kaupun berlari menuju arah dimana jeritan itu berasal, kau membuka pintunya dan pemandangan yang kau saksikan membuatmu begitu trenyuh, adik laki-laki Maria dan ibunya berada di dalam kamar itu. Sang ibu dengan wajah yang tak berbentuk lagi sedang mengobati punggung anak laki-lakinya yang penuh dengan memar. Laki-laki kecil itu melihatmu, dan matanya mengingatkanmu pada Hachi. Kau tertegun! dan Maria menarik tanganmu, membawamu ke ruang tamu,

“Rie, maaf kau harus menyaksikan …”, air matanya tak terbendung, kau kemudian tanpa sengaja melihat memar yang begitu besar seperti sebuah pulau di balik kerah bajunya,

“Siapa yang melakukan semua ini?”, tanyamu dengan nada sedikit memaksa,

“A..ayahku.”

_______________________

Malam menyembunyikan kehadiranmu, dan kau sangat heran kenapa kau bisa berdiri disini, di depan rumah Maria. Apa sebenarnya yang akan kau lakukan? Tanyamu pada diri sendiri. Deru mesin mobil terdengar mendekatimu, kemudian berhenti tepat di hadapanmu. Kau mengambil langkah cepat mendekati pria yang keluar dari mobil itu. Dan tiba-tiba kau merasakan kehadiran Hachi disampingmu,

“Hachi.. Apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia bisa ada disini?”, bisikmu dalam hati.

Kemudian kau melihat darah yang mengalir dengan deras , kau melangkah mundur dan melihat Hachi telah menghunuskan pisau tepat di jantung pria itu,

“Apa yang kau lakukan Hachi?”, teriakmu.

Lagi dan lagi menghunuskan pisau itu.

“Jangan lakukan itu!Pria itu akan mati!”

Lagi dan lagi menghunuskannya.

Hachi hanya tersenyum simpul padamu, senyum yang sama ketika kau melihatnya di Trafalgar Square kemudian keberadaannya menghilang seperti ditelan oleh malam.

______________________

Angin menyentuh rambutmu yang lurus pendek, hitam dan berkilau seperti malam yang diterangi cahaya bulan, hidung mancungmu yang artistik layaknya pahatan patung-patung gips, menghirup udara malam yang dingin. Langkahmu kemudian terhenti di bawah sorotan cahaya lampu jalan, kau menggigit bibirmu yang sedikit hitam sambil  memandangi tanganmu yang bersimbah darah.

Palembang, 11 Oktober 2006

Buat EQ, adikku tersayang.

(Dengan sedikit ubahan nama tokoh :p)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s