Ambisi ku

Banyak sekali hal yang ingin aku capai dari dunia ini. Ambisi ku tak terbatas di kata aku hidup tenang dan bahagia. Aku ingin hidup ku tenang, bahagia, dan bisa membeli semuanya, serta berderma sebanyak-banyaknya.

Aku ingin punya sekolah. Dari dulu, aku tak pernah punya cita-cita khusus.

Dulu waktu kecil sekali, waktu aku tak tau apa-apa tentang sistem pendidikan di Indonesia, cita-cita ku adalah astronot. Tertarik sekali membaca Bobo bagian pengetahuan antariksa. Di kamar ku tertempel poster tata surya. Padahal saat itu aku sungguh masih tak tau apa-apa. Berada di kesunyian luar angkasa itu rasanya menyenangkan sekali. Terbang, melihat bumi dari kejauhan, bermain-main di bulan.

Kemudian saat aku sudah mulai sekolah, mulai banyak menonton film Jepang dan Korea. Aku ingin menjadi tour guide. Keliling dunia, mengenal orang-orang baru, tidak terjebak di satu tempat, mendapatkan pengalaman baru, dan dibayar pula adalah cita-cita ku saat itu. Terbayang di benak ku, aku berdiri di dalam bus, sedang menjelaskan tempat wisata yang akan dikunjungi pada peserta tour.

Lagi-lagi hanya jadi hayalan belaka.

Kemudian, saat aku mulai beranjak dewasa, aku mulai tertarik pada hal-hal yang bisa membantu orang. Jadi apoteker. Entahlah ini keinginan datang dari mana. Mau jadi dokter, akku tau kapasitas otak dan keuangan keluarga ku. Mau jadi perawat, kesan nya bagaimana ya, tanggung. Jadilah aku bercita-cita jadi apoteker. Sudah lulus tes untuk masuk ke D3 Farmasi, aku mulai berpikir. Tapi kalau jadi apoteker, hidup ku bisa saja terkurung di satu ruangan saja setiap hari. Tak kemana-mana. Tak bertemu siapa-siapa. Aku urungkan niatku untuk mengambil Farmasi.

Lalu aku terjebak di dunia teknologi. Tak terpikir sama sekali aku akan akrab sekali dengan benda mati berbentuk kotak ini. Yang akan mengurung dunia ku. Tapi dengannya juga aku bisa mengenal dunia. Secara maya maupun nyata. Tertarik sekali aku dengan drama Rich Man Poor Woman nya Shun Oguri yang bercerita tentang programmer sekaligus CEO sebuah perusahaan IT. Dari situ, aku punya cita-cita, aneh sih, tapi agak realistis, tidak juga sebenarnya.. bukan untuk jadi CEO nya atau programmernya. Tapi aku ingin jadi istri dari seorang CEO nya (iya ketawa aja). Dulu, inginnya CEO perusahaan IT. Keren saja. Tapi semakin ke sini, semakin realistis saja CEO di mana-mana ya sudah beristri, kalaupun masih muda ya tidak tertarik dengan ku (krai).

Karena cita-cita itu rasanya terlalu muluk. Aku jadi memikirkan hal lain. Bagaimana kalau aku yang punya sesuatu tersebut. Tapi bukan perusahaan profit. Hanya untuk memperbanyak amal ku. Iya dengan menjadi bermanfaat bagi banyak orang tentunya. Mengajar. Kecilnya, aku hanya ingin punya sekolah kecil yang isinya anak-anak tidak mampu. Di situ aku yang akan mengajari mereka secara gratis. Besarnya, ya aku ingin punya sekolah betulan. Dosen adalah alternatif dari cita-cita ini sebenarnya. Sampai sekarang, aku masih ingin punya sekolah. Jalan nya, ya wallahualam. Aku percaya niat baik akan selalu dimudahkan 🙂

Semangat terus menggapai ambisi kalian ya! Jangan berhenti!

29 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s