Gejolak Pencitraan

gie-2

Pernah tidak kalian merasa kalau apa yang kalian lakukan itu sangat bertentangan dengan apa yang kalian rasakan tapi harus dilakukan untuk menyelamatkan keberadaan kalian? Melakukan sesuatu yang terasa sangat berat dan setelah melakukannya terasa amat sangat lelah. Tapi kalau tidak dilakukan, kalian mungkin bisa hilang -dihilangkan.

Kejadian ini biasanya terjadi dalam suatu kelompok  dimana kita sedemikian rupa harus tetap berada di kelompok tersebut. Bisa juga dalam sebuah hubungan, baik hubungan pertemanan, persahabatan, maupun percintaan. Kita mulai menjadi orang lain yang kadang tidak kita kenali – dan kadang sangat kita benci- hanya untuk sebuah keberadaan.

Jujur saja, menjadi orang yang bukan kita, mengiyakan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kita, mengikuti kemauan orang lain yang jauh dari nalar dan logika kita itu sungguh menyebalkan. Tapi tidak semua orang mengerti, tidak semua orang mau mengerti. Contohnya saja, bayangkan kamu sedang berdiri dengan seseorang. Kemudian orang yang di belakang mu berjalan dan mau menabrak mu. Tapi teman mu menyuruh hati-hati. Kalau dipikir, bukan kah mata itu ada di depan? Yang seharusnya bisa menghindar, kita atau mereka yang berjalan ke arah kita? Kalau dengan logika. Teman mu tidaklah salah, dia hanya ingin mengingatkan dan melindungi agar tidak terjadi tabrakan – yang seharusnya tidak harus terjadi karena jelas, satu orang tidak melihat dan satu orang memiliki mata yang masih berfungsi dengan baik. Tapi kalau dalam konteks lain? Kalian tau itu tidak benar, itu salah secara logika, tapi harus tetap berkata “Iya, aku paham” bukankah memuakkan?

Tapi kalau tidak begitu, hidup mu terancam di dunia yang begitu mementingkan pencitraan ini. Lihat, apa yang bisa didapat berbekal pencitraan? Sungguh banyak bukan?

Sebegitu pentingnya pencitraan daripada kinerja yang nyata. Lebih penting senyum lebar kita yang terlihat bahagia di depan kamera daripada retaknya hati karena membohongi diri sendiri. Munafik pada diri sendiri yang sedikit demi sedikit akan menggerogoti kebenaran yang sudah lama kita yakini dan terbuai dalam kebohongan yang semakin hari semakin kita percayai.

Namun, sungguh selalu ada pertolongan Allah seberat apa pun hidupmu. Dan selalu ada ampunan Allah semerasa berdosa apa pun dirimu.

“Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi]. 

Gemar Berkomentar Negatif dan ‘Salah Fokus’

Generasi kita sekarang memang gemar memberikan komentar, terutama komentar negatif. Itu tidak usah dipermasalahkan lagi. Susah mengubahnya. Tapi untuk salah fokus? Salah fokus di sini itu misalnya ada seseorang yang upload foto sedang memegang buku terbaru yang dia baca. Tapi kolom komentarnya penuh dengan komentar-komentar:

“Ih tangan nya gendut #salahfokus”

“Ih tangan nya item #salahfokus”

Iya generasi sekarang lebih fokus pada hal-hal negatif. Lebih peka terhadap hal-hal negatif. Kurang proton. Yang mau dia bagikan adalah buku yang barusan ia baca. Tapi yang diperhatikan adalah tangan yang sedang memegang buku itu. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk bertanya isi dari buku itu.

Kenapa?

Adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk tidak memiliki nama yang ditawarkan social media memang sangat menggiurkan bagi makhluk-makhluk seperti itu. Mereka bebas memberikan komentar apa saja pada orang yang mungkin dia kenal saja tidak. Ada salah satu artis youtube juga pernah menumpahkan kekesalan nya pada mereka-mereka yang selalu mengomentari detail fisiknya di Vlog (Video Blog). Iya kelemahan yang paling mudah dicari adalah kelemahan yang terlihat, fisik. Dan rata-rata mereka yang meninggalkan komentar itu Display Picture nya merupakan anak di bawah umur.

Apa yang salah?

Tadi sore, sepulang kerja saya melihat anak-anak SMP nongkrong di Lawson. Saya seumuran mereka sedang apa ya dulu? Anak-anak jaman sekarang lebih mudah untuk ‘keluar rumah’. Baik walau mereka tetap di rumah atau memang mereka keluar rumah. Jendela dunia bukan lagi buku, tapi berubah menjadi social media. Sayangnya, lewat jendela social media ini, bukan hanya hal baik yang masuk, tapi kebanyakan hal-hal buruk. Dan mereka ini, sangat mudah menyerap hal buruk tersebut. Lihat saja lah selebgram yang booming gara-gara putus cinta itu, penggemar nya bocah-bocah loh. Ngomong anjing mereka anggap keren. Naik kuda hanya pakai beha mereka anggap sebagai tren. Foto berdua di ranjang dianggap #relationshipgoal. Lalu berubah lah mereka dari anak-anak polos dan unyu  yang tidak keren dan ingin keren dengan cara aneh seperti itu. Menghina menjadi kebiasaan. Mendapatkan celah negatif menjadi pencapaian. Fokus pada sesuatu yang lain di luar konteks menjadi kegemaran.

Mau bagaimana?

ikut sertakan mereka ke battle royale. Peran orang tua pastinya sangat penting. Peran guru di sekolah juga sangat penting karena mereka menghabiskan setengah hari nya di sana. Saya juga belum tau bagaimana susahnya mendidik anak dan tetap menjaga mereka ada di jalan yang benar, jadi saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada  didikan orang tua. Pengaruh besar sebenarnya ada di lingkungan sekitar. Oleh karena itu dalam sebuah hadist Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Semoga kita senantiasa saling mengingatkan. Tidak meninggalkan komentar lebih baik dari pada meninggalkan komentar negatif.

Jakarta,

21217