Gemar Berkomentar Negatif dan ‘Salah Fokus’

Generasi kita sekarang memang gemar memberikan komentar, terutama komentar negatif. Itu tidak usah dipermasalahkan lagi. Susah mengubahnya. Tapi untuk salah fokus? Salah fokus di sini itu misalnya ada seseorang yang upload foto sedang memegang buku terbaru yang dia baca. Tapi kolom komentarnya penuh dengan komentar-komentar:

“Ih tangan nya gendut #salahfokus”

“Ih tangan nya item #salahfokus”

Iya generasi sekarang lebih fokus pada hal-hal negatif. Lebih peka terhadap hal-hal negatif. Kurang proton. Yang mau dia bagikan adalah buku yang barusan ia baca. Tapi yang diperhatikan adalah tangan yang sedang memegang buku itu. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk bertanya isi dari buku itu.

Kenapa?

Adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk tidak memiliki nama yang ditawarkan social media memang sangat menggiurkan bagi makhluk-makhluk seperti itu. Mereka bebas memberikan komentar apa saja pada orang yang mungkin dia kenal saja tidak. Ada salah satu artis youtube juga pernah menumpahkan kekesalan nya pada mereka-mereka yang selalu mengomentari detail fisiknya di Vlog (Video Blog). Iya kelemahan yang paling mudah dicari adalah kelemahan yang terlihat, fisik. Dan rata-rata mereka yang meninggalkan komentar itu Display Picture nya merupakan anak di bawah umur.

Apa yang salah?

Tadi sore, sepulang kerja saya melihat anak-anak SMP nongkrong di Lawson. Saya seumuran mereka sedang apa ya dulu? Anak-anak jaman sekarang lebih mudah untuk ‘keluar rumah’. Baik walau mereka tetap di rumah atau memang mereka keluar rumah. Jendela dunia bukan lagi buku, tapi berubah menjadi social media. Sayangnya, lewat jendela social media ini, bukan hanya hal baik yang masuk, tapi kebanyakan hal-hal buruk. Dan mereka ini, sangat mudah menyerap hal buruk tersebut. Lihat saja lah selebgram yang booming gara-gara putus cinta itu, penggemar nya bocah-bocah loh. Ngomong anjing mereka anggap keren. Naik kuda hanya pakai beha mereka anggap sebagai tren. Foto berdua di ranjang dianggap #relationshipgoal. Lalu berubah lah mereka dari anak-anak polos dan unyu  yang tidak keren dan ingin keren dengan cara aneh seperti itu. Menghina menjadi kebiasaan. Mendapatkan celah negatif menjadi pencapaian. Fokus pada sesuatu yang lain di luar konteks menjadi kegemaran.

Mau bagaimana?

ikut sertakan mereka ke battle royale. Peran orang tua pastinya sangat penting. Peran guru di sekolah juga sangat penting karena mereka menghabiskan setengah hari nya di sana. Saya juga belum tau bagaimana susahnya mendidik anak dan tetap menjaga mereka ada di jalan yang benar, jadi saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada  didikan orang tua. Pengaruh besar sebenarnya ada di lingkungan sekitar. Oleh karena itu dalam sebuah hadist Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Semoga kita senantiasa saling mengingatkan. Tidak meninggalkan komentar lebih baik dari pada meninggalkan komentar negatif.

Jakarta,

21217

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s