Secuil Kisah di Sekolah

Pratama

Sampai saat ini, mengakui bahwa saya mencintai seseorang masih tidaklah mudah. Apalagi dulu, sewaktu saya masih merasa bahwa saya masih belum cukup umur untuk mencintai. Bahkan dulu, saya begitu pemalu bila bertemu dengan seseorang yang saya tau dia menyukai saya. Saya bisa berputar arah bila dari kejauhan saya melihat sosok orang yang menyukai saya. Dan ini, hanya sedikit kisah masa sekolah yang saya coba bagikan untuk mengenang bahwa rasa itu bisa begitu sederhana dan membahagiakan. Dari sekian banyak kisah yang bisa diceritakan, saya memilih menceritakan kisah yang ini (dulu) karena kalau dipikirkan lagi, ternyata ini pertama kali saya menyukai seseorang (dengan agak serius).

Sebut saja namanya Pratama. Dia berkulit cokelat, bertubuh tinggi, memiliki hidung yang mancung, dengan dahi ditutupi poni. Pertama kali saya mengenal dia karena dia adalah teman dekat dari teman sebangku saya. Dia sering sekali mengganggu teman sebangku saya itu. Seharusnya, saya tidak berada di kelas yang sama dengan Pratama dan Dila. Saya lupa seharusnya  saya itu berada di kelas VII A atau apa. Tapi, saya mengajukan diri untuk pindah karena orang-orang di kelas itu auranya suram, entah kenapa. Sayapun pindah ke kelas VII B, teman-temannya lebih asyik dan kelasnya lebih hidup, lebih ramai.

Saya, Pratama, dan Dila sering bermain bersama. Makan siang bersama. Sampai akhirnya, saya tau kalau Pratama menyukai Dila. Karena itu, Pratama sering cerita dan menanyakan pendapat saya mengenai Dila. Waktu itu, komunikasi hanya menggunakan SMS dan sesekali lewat telepon. Dulu, entah kenapa saya merasa sangat belum cukup umur untuk komunikasi dengan laki-laki. Bila ada SMS atau telepon, saya harus sembunyi dari saudari perempuan saya dan Ibu saya karena saya malu kalau ketahuan sedang komunikasi dengan laki-laki.

Saat itu, pembicaraan saya dan Pratama tidak jauh dari hal-hal tentang Dila. Sampai akhirnya, Pratama memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Dila. Namun saya lupa apakah perasaan suka Pratama berbalas atau tidak, atau Pratama tidak jadi mengungkapkan perasaannya. Saat itu, saya ternyata sedang disukai juga oleh anak kelas VII A (kalau tidak salah), namanya Reihan. Reihan dan Pratama saling kenal. Pratamapun sering menjodohkan saya dengan Reihan. Sampai akhirnya, saya mengikuti tes untuk masuk ke kelas percepatan dan lulus. Akhirnya, saya harus berpisah dari mereka dan masuk ke kelas yang isinya 30 anak terpilih dengan IQ di atas standar yang ditentukan.

Sejak itu, saya semakin jarang bertemu Pratama. Namun, saya dan Pratama sering bertukar pesan untuk berbagi cerita. Tentang Dila, tentang Reihan. Sampai pada akhirnya, Pratama berkata bahwa sepertinya dia tidak se-suka itu pada Dila. Dia hanya menjadikan Dila alasan agar bisa tetap berkomunikasi dengan saya. Bagi saya yang saat itu baru berumur 13 tahun, hal sekecil itu sudah membuat wajah saya memerah saking mudahnya saya percaya pada seseorang. Dan karena saat itu saya masih berumur 13 tahun juga ditambah saya diharuskan belajar ekstra maka saya tidak membalas perasaan Pratama. Padahal saya akui, sudah lama saya menyukai Pratama. Bahkan mungkin, saya yang lebih dulu menyukai dia.

Pratama semakin ditolak bukan malah mundur, dia menjadi sering mengunjungi kelas saya sampai satu kelas tau kalau ada laki-laki yang sedang menyukai saya, namanya Pratama. Saat itu, saya hanya anak umur 13 tahun yang walaupun saya suka, saya tidak akan pernah menunjukkannya, karena saya merasa saya masih kecil. Saya hanya bisa menghindar kalau saya tau di kejauhan sana ada dia sedang berjalan ke arah saya. Bahkan saya bisa lari, namun Pratama semakin mengejar. Sifat laki-laki mungkin, semakin ditolak semakin jadi.

Setiap tahun, sekolahku mengadakan Study Tour yang bisa diikuti oleh semua murid dari kelas 1 sampai kelas 3. Saat itu, sekolah saya menjadikan Pagaralam sebagai destinasi wisata. Saya dan seluruh anak kelas akselerasi IV kalau tidak salah ikut semua, tetapi sedikit dari kelas reguler yang ikut. Namun, dari sedikit orang tersebut, ada nama Pratama. Beruntungnya, saya dan Pratama tidak dalam satu bus. Saya bisa bernafas dengan tenang, pikir saya. Selama di Pagaralam, saya sebisa mungkin tidak bertemu dengan Pratama. Sialnya, saya harus bertemu dengan Pratama saat saya sedang bermain dengan teman lelaki saya, Khalik. Entah saya lupa sedang bermain apa, saya terpeleset dari bukit kecil dan ternyata Pratama tepat berada di depan saya. Melihat hal tersebut, dia tertawa keras sekali. Pratama menjadikan itu sebagai bahan ejekan bahkan sampai saat ini. Dari dulu, saya memang begini. Saya menyukai siapa, tapi dekatnya dengan siapa. Selama di Pagaralam, tidak pernah sekalipun saya menghabiskan waktu dengan Pratama. Saya malah sibuk bermain dengan teman-teman yang lain, sibuk diciyekan dengan yang lain dan perjalanan 3 hari itu berlalu begitu saja.

Sepulang dari perjalanan itu, saya semakin menjauh dari Pratama. Saya juga sangat sibuk di kelas yang setiap semesternya ada sistem eliminasi ini. Mungkin, Pratama mulai lelah. Dia mengirim pesan yang intinya dia berangkat ke Pagaralam itu memang karena saya dan untuk saya. Foto saya di Pagaralam yang diambil oleh fotografer sekolah untuk dijual pun sudah hilang duluan, dan ternyata Pratama yang beli. Pratama mundur teratur sejak saat itu. Sampai akhirnya saya mendengar kabar, kalau Pratama sudah punya pacar. Sejak saat itu, Pratama tidak pernah mengirimi saya pesan lagi.

Pertama kali melihat dia berjalan beriringan dengan pasangannya ada perasaan tidak enak. Tapi waktu itu saya baru berumur 14 tahun yang tidak tau kalau itu namanya cemburu. Saya dan Pratama sering melempar pandangan saat berpapasan. Iya, sekarang karena sudah tau dia sudah tidak ada perasaan lagi pada saya, saya berani berpapasan dengan dia. Tapi, di situ ada satu yang tidak berubah, saya tetap menyukai dia dengan siapapun dia waktu itu.

Selang waktu berlalu, saya tidak tau apakah dia masih pacaran atau tidak. Saya juga sudah lama sekali tidak berbicara dengan Pratama. Saat itu, saya berjalan sendirian di koridor menuju kelas dan mendengar ada suara memanggil saya.

“Risya, tunggu!”

Cuma satu manusia di muka bumi ini yang memanggil saya dengan nama itu. Dan benar, itu Pratama. Dia berlari ke arah saya dari kelasnya yang berada di lantai 2. Dia menghampiri saya hanya untuk bertanya,

“Apa kabar?”

Saya saat itu bingung tidak karuan. Saya sendiri tidak sadar, perasaan saya ternyata masih di situ dan mungkin malah semakin besar. Pratama menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Lalu saya menggenggam tangannya sambil berkata,

“Alhamdulillah, baik. Saya naik dulu  ya.”

Dari situ saya sadar, saya memang menyukai dia. Tapi saya masih merasa kalau saya belum pantas untuk hal-hal seperti ini.

Saya yang tergabung dalam kelas berisi anak-anak yang memiliki IQ di atas standar yang ditentukan itu akhirnya berhasil bertahan sampai akhir. Dari 30 anak, yang lulus hanya 20 orang. Karena itu, saya lulus duluan dari Pratama. Saya berpikir, saya yang akan meninggalkan Pratama. Ternyata, tidak. Dia yang meninggalkan saya lebih dulu. Dia harus pindah ke luar kota sebelum kelulusan saya. Di hari terakhir saya bisa bertemu Pratama, kami berjanji untuk bertemu di sekolah. Saya sudah menyiapkan surat, foto, dan hadiah kecil sebagai kenang-kenangan untuk Pratama. Namun, sampai jam yang dijanjikan, dia belum muncul juga. Saya harus pulang karena sudah dijemput, dan akhirnya saya tidak sempat bertemu Pratama. Dia meminta maaf karena terlambat dan memberi alasan keterlambatannya.

Saya dan Pratama akhirnya berjanji untuk bertemu lagi nanti beberapa tahun lagi, saat saya sudah kuliah untuk menyusulnya. Selama dia di Jawa Barat, saya banyak mengetahui kabar Pratama dari Facebook walaupun saya juga masih sering bertukar pesan. Tahun berlalu, saya sudah SMA, Pratama juga. Semakin hari, perasaan suka ini rasanya harus disampaikan. Akhirnya, saya menyatakan perasaan saya pada Pratama lewat SMS, kalau sesungguhnya dari dulu saya juga menyukainya. Dan bodohnya, saya menyatakannya hanya dalam rangka April Fools. Pratama kemudian membalas pesan ku,

“Jangan bermain-main dengan perasaan. Saya saat itu dan sampai saat ini sangat menyukaimu. Mendengar kamu berkata menyukai saya juga saat saya sudah jauh dari kamu itu menyakitkan”

Saya merasa amat sangat bodoh. Saya yang berumur 15 tahun saat itu sungguh tidak tau bagaimana rasanya sakit karena rasa. Tapi, saat itu saya merasa kalau yang saya lakukan pada Pratama adalah kesalahan yang amat sangat salah. Menyatakan bahwa selama ini saya menyukai dia juga tapi kemudian atas nama 1 April saya mengatakan itu semua bercanda belaka. Sejak saat itu, Pratama tidak pernah menghubungi saya lagi. Saya mengetahui kabar Pratama hanya dari Facebook dan dari sana pula saya tau dia sudah punya pacar lagi. Dan gilanya, saya tetap saja menyukai dia dengan siapapun dia. Tak lama dia punya pacar. Saya juga.

Menginjak kelas 2 SMA, saya sudah tidak terlalu peduli pada kabar Pratama. Saya sibuk dengan dunia baru saya. Sampai suatu saat, saya dan keluarga  hendak berlibur ke Bandung. Dari situ, terbersit keinginan bertemu Pratama. Hanya untuk sekedar bertemu. Saya menghubungi Pratama dan mengajaknya untuk bertemu, dan dia mau. Dia tidak datang sendiri tentunya. Saya juga datang bersama keluarga  saya. Saya berjanji bertemu Pratama di Sari Ater. Lama tidak bertemu, saya sudah banyak berubah, begitu juga Pratama. Saya sudah pakai jilbab dan dia semakin tinggi saja. Hal pertama yang  saya tanyakan adalah kabar pacarnya. Saya tidak tau, apakah Pratama tau atau tidak kalau saat itu saya juga sudah punya pacar dan untuk pacar saya waktu itu saya minta maaf tidak memberi tau pertemuan ini (hehe). Pertemuan itu cukup singkat, saya harus pergi lagi. Saya lupa menyiapkan kenang-kenangan untuk dia. Alhasil saya mengambil barang dari diri saya yang ada, bros kecil huruf R dari jilbab saya. Saya kira dia tidak menyiapkan apa-apa juga. Saat saya berbalik arah untuk pergi, dia menaruh syal ke kepala saya. Bagi saya yang saat itu berumur 16 tahun, itu sangat romantis. Saya pergi sambil tersenyum. Dan itu adalah terakhir kali saya dan Pratama bertemu, walau padahal saya menepati janji untuk kuliah di kota yang sama dengannya, saya tidak pernah bertemu dia lagi.

Hubungan saya dan Pratama saat ini tetap baik. Kami tetap berteman. Sesekali dia muncul untuk memberi komentar atau sekadar memberi like. Yang saya tau dari social medianya, dia sudah berganti pacar berapa kali. Tapi penilaian saya pada dia tidak berubah. Dia tetaplah Pratama yang baik. Betapa dulu, rasa itu bisa begitu sederhana bukan? Bahkan setelah tau dia memiliki orang lain, perasaan itu tetap ada di situ, tidak benci, tidak pula merasa dikhianati.

 p.s : Kesamaan kisah, nama dan tempat jangan diambil hati :p

Advertisements