My favorite what if

The whole world is built on two words; what if -d.j

I don’t even know when these butterflies starts to knock

Knock all the walls i build, so rebellious

Maybe, i’m just in love with the laugh you gave me

Maybe, i’m just in love with the way you look at me

Maybe, i’m just in love with the way you call me

And another maybe. Cause i, my self, do not know. And please don’t ask me

I know every inch of risk that will hit me

I know i’m drowning.  Just don’t try to help me

I know i’m dying. I let you have the gun loaded with bullets directly pointing at me

And i’m not bulletproof enough

Not anymore

So just please don’t. Whatever happens, just don’t

Don’t pull the trigger

I’m counting on you, cause every step we take will be another what if

But hey, you are my favorite.

What if.

p.s :

Jakarta, pertama puasa di 2017. Mari tebarkan kebaikan dan cinta. Kalau kalian menyukai sesuatu yang indah, jangan malu untuk memuji, katakan what makes you love them. Karena semuanya berhak bahagia. Happy fasting!

The way i lose him

“Kamu tau? Cinta itu, bisa kadaluarsa”

Saya saat itu kuliah di salah satu universitas swasta di sebuah kota yang bila disebut namanya yang teringat hanyalah kenangan. Tak lebih dan tak kurang. Saya berumur 19 tahun kala itu. Masa-masa saat mendengar kata jangan maunya melanggar (sekarang juga sih, kadang). Masa-masa saat mendengar kata harus malah tidak dilakukan. Cikal bakal jiwa yang memberontak datang terlambat. Di umur 19 tahun, jauh dari orang tua, jauh dari saudara, jauh dari pacar, jauh dari pengawasan. Kalau saya mau jadi nakal, inilah saatnya.

Tahun pertama, seperti biasa, saya melewati hari-hari perkuliahan dengan image anak baik. Setiap pergi, laporan ke orang tua, laporan ke pacar. Detail. Pergi ke mana, dengan siapa, naik apa, dibonceng siapa. Iya, dibonceng siapa adalah laporan wajib untuk sang pacar saja. Kalian tau sendiri bukan? Masa perkuliahan itu adalah masa yang sangat sulit menghindari bepergian dengan laki-laki, dan sangat tidak menutup kemungkinan akan ada masanya harus pergi berdua saja. Entah itu ada urusan perkuliahan, entah harus fotokopi tugas, entah pulang malam dari rapat bersama, entah mau nebeng saja karena pulang searah dan malas pulang sendirian. Namun sayangnya, dulu, dia tidak mau mengerti. Padahal dia juga saat itu sedang kuliah. Hal ini membuat saya sedikit tidak terbuka dan mulai menutupi hal-hal yang saya anggap akan menimbulkan curiga.

Ada angin apa, atau saya sedang berulang tahun waktu itu, dia datang berkunjung. Masih dengan kadar perasaan yang sama seperti dulu pertama kali kembali padanya. Tak lebih dan tak kurang.

Saya ajak dia ke gedung perkuliahan saya. Saat saya istirahat, saya mengajak dia bergabung dengan teman-teman saya yang lain. Dia berkenalan dengan teman-teman dekat saya. Dia memang termasuk orang yang mudah bergaul (tidak seperti saya yang keringat dingin kalau masuk ke kelompok baru). Malam terakhir sebelum dia kembali ke kotanya, kami duduk di ruang tamu. Melihat-lihat folder foto di laptop saya. Kebetulan, saya habis jalan-jalan kelas. Dia melihat satu persatu foto-foto itu dan berhenti di satu foto. Di foto itu saya duduk di samping teman laki-laki saya, yang tadi sempat berkenalan dengan dia di gedung perkuliahan saya.Sebenarnya di foto itu laki-lakinya hanya satu, yang lainnya perempuan. Ada 3 orang perempuan lainnya di situ. Salahnya, saya duduk di samping laki-laki itu.

” Ini siapa, Dek?”

” Itu teman sekelasku tadi, namanya Bowo, Nda”

“Kenapa harus duduk di situ?”

Mulai. Malam sudah semakin malam. Saya menjelaskan bagaimana sifat dan sikap Bowo ini menurut teman-teman sekelas saya biar dia paham kalau di antara kami tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi tetap tidak masuk di akalnya. Jurus terakhir seorang perempuan apa kalau sudah begini? Air mata. Akhirnya dia minta maaf namun dengan peringatan bahwa Bowo pasti punya perasaan pada saya kalau saya tetap bersikap begitu terus pada Bowo. Tinggal tunggu waktu saja. Saya yang terlahir dengan tingkat GR di bawah 0% tidak mengindahkan kata-katanya. Saya begitu yakin bahwa di dunia ini hubungan platonik itu ada.

Setelah dia pulang, saya tetap menjalin hubungan baik dengan semua orang. Termasuk Bowo tentunya. Saya tetap makan bersama Bowo, ke mana-mana bersama Bowo. Kadang ramai-ramai, kadang berdua saja. Dia sering mengantar saya pulang jalan kaki. Kalau malam sering menemani saya makan di angkringan. Semata-mata dengan moto hidup saya bahwa hubungan platonik itu ada. Sampai akhirnya, saya menyadari sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah disadari oleh pacar saya lebih dulu. Iya, Bowo menyukai saya. Dan bodohnya, karena tidak mau kehilangan sahabat, walau saya tau dia menyukai saya, saya tetap berada di dekatnya tanpa menerima perasaannya. Yang benar saja, saya punya pacar.

Semakin sering bersama Bowo, saya kasihan. Setan dari mana berkata pada saya, “Yang benar saja kamu, setelah apa yang kalian berdua lalui setiap hari kamu tetap tidak bisa membuka hati? Buat apa mempertahankan dia yang jauh itu? Mengantarmu pulang tidak bisa, menemanimu makan tengah malam tidak bisa, menonton film baru di bioskop tidak bisa, dan .. apa kamu yakin di sana dia setia? Lupa dengan kejadian dulu-dulu? Termaafkan begitu saja? Selingkuh saja sudah.”

Saya sempat masuk ke kelas perkuliahan dengan mata bengkak dan Bowo menyadari ini dan bertanya kenapa nyawa saya seperti tidak ada di kelas. Semalam saya habis bertengkar. Lagi. Entah karena rindu atau kesepian, saya benar-benar ingin dia mengunjungi saya dan dia tidak bisa. Ditambah pertengkaran-pertengkaran yang tak jauh-jauh dari masalah dulu-dulu itu, setan di belakang saya menunjukkan taringnya seakan berkata, “Kan”.

Malam itu, saya memutuskan untuk berpisah saja. Sebenar-benarnya berpisah. Melupakan semuanya. Keinginan saya untuk menjalani hidup dengan bebas menambah kuat keputusan saya. Ditambah rasa kasihan saya pada Bowo yang sudah begitu baik pada saya. Saya melepas dia. Saat itu di dalam hati saya berkata, mungkin saat ini saya sedang melepas emas untuk arang yang belum jadi, tapi sudah tidak apa-apa. Sudah terlalu lama bersama adalah satu-satunya alasan hubungan ini tetap berjalan. Dan terlalu lama bersama dengan sekian banyak masalah yang ada sungguh bisa membuat rasa cinta itu kadaluarsa.

.

.

Sungguh kadaluarsa? Tidak. Bisa saja hubungan ini dipertahankan. Itu hanya pembelaan. Saya yang salah.

p.s : Kesamaan kisah, nama dan tempat jangan diambil hati :p