Nyaris

Dindra

Saya mengenal Dindra tidak dalam waktu yang lama. Pertama kali berkenalan dengannya di lapangan parkir kampus. Lucu sekali. Saat itu baru saja selesai jam perkuliahan.

“Kenalin, Dindra”

Saya tidak menyentuh tangannya saat dia menyerahkan tangannya untuk berjabat tangan, yang kemudian dia jadikan momen ini sebagai hadiah ulang tahun. Patung perempuan dan laki-laki berhadap-hadapan sedang berkenalan.

Bagi saya, perkenalan itu biasa saja. Hanya perkenalan antar teman baru di kelas baru. Saya pulang. Dia pulang. Esoknya, teman saya yang juga temannya bertanya apakah dia boleh memberi kontak saya pada Dindra. Tentu saja boleh. Saya sudah pernah bilang ya kalau saya terlahir dengan tingkat GR 0%? Iya sudah rasanya. Mungkin nanti bisa sekelompok, mungkin penting, kenapa harus tidak mengizinkan? Bahkan username Facebook dan Twitter saja sudah mudah didapatkan.

Saya lupa pertama kali dia menghubungi saya itu bagaimana, tapi semenjak dia punya nomor HP saya, sering sekali dia menelepon. Seperti minum obat. Tapi karena dia lucu, saya merasa nyambung ngobrol dengannya dengan segala keusilannya. Saya memang lemah dengan pria yang frekuensi humornya sama dengan saya. Dindra ini sangat iseng. Dia sering sekali mengerjai teman-teman sekelasnya, bahkan dosen di kelas saya. Kadang saya rasanya ingin sekali menoleh ke belakang untuk bilang “Sudah.. kasihan Bapaknya”. Salah satu bentuk keisengan yang paling iseng menurut saya adalah membuat clan bernama “Ocha Marocha Fansclub” di game yang saat itu sangat populer.

Percakapan saya dan Dindra pun terbilang cukup aneh.

” Kamu sudah berapa orang kelompoknya?”

“5 orang tapi masih kurang”

“Kalau kurang aku ikut ya”

“Haha jangan nakal tapi ya”

“Nakal itu definisi nya gimana? Batas kenakalan yang diperbolehkan sampai mana?”

“Jangan salto kalau lagi kerja kelompok”

“Hmm.. kalau pipis sambil kayang, boleh?”

“Hmm asal di kamar mandi, boleh.”

“Kalau di kebun?”

“Asal gak ada yang liat sih gapapa”

“Lebih greget ditonton”

Ada lagi. Yang seperti ini

“Dinda, udah bisa belum tugasnya?”

“Salah sambung ya?”

“Nggak.. beneran”

“Seriusan?”

“Iya..”

“Yaudah, aku juga serius sama kamu”

Ngobrol dengan Dindra membuat waktu terasa begitu cepat, karena banyak sekali keisengan dan humor-humor yang selalu membuat saya tertawa, walau kadang ada sebalnya juga. Yang saya heran adalah, biasanya pria yang mendekati saya dalam waktu sehari dua sudah menyatakan rasanya. Dia berbeda. Dia hanya menggoda. Sebatas itu. Karena dia tidak menyatakan perasaannya, saya jelas akan terus berteman dengannya karena tidak merasa bahwa pertemanan ini berbahaya bagi hubungan saya. Iya saya sudah punya pacar waktu itu. Kenapa saya selalu punya pacar di setiap cerita saya ya? Entahlah.

Sampai suatu ketika, Dindra mengajak saya untuk berbicara setelah UAS. Karena setelah itu perkuliahan libur, mungkin dia lebih leluasa untuk menyatakan, pikir saya. Malam itu, saya dan Dindra memutuskan untuk berbicara di sebuah resto di dekat kampus. Pertama, masih seperti biasa. Dia mengeluarkan lelucon-leluconnya. Sampai akhirnya dia bertanya pada saya.

“Kamu punya pacar?”

“Kalau punya kenapa, kalau tidak kenapa?”

Mungkin dia kesal dengan jawaban saya, dia menyentil dahi saya, sambil berkata “Dasar!”

Sebenarnya dia sudah tau saya punya pacar. Istilah dinding berbicara itu benar adanya. Teman saya memberi tahu temannya Dindra kalau saya sudah punya pacar. Dia hanya, mengetes?

Kemudian dia lanjut berbicara sambil memperlihatkan sebuah foto di HPnya. Di sana ada tiga anak kecil dan dia sedang tertawa di dalam mobil.

“Kamu lihat ini? dua ini keponakan saya.”

“Yang satunya anak mu, gitu?”

“Iya.”

…..

Karena jujur saja saya tidak tahu dia serius atau bercanda, saya teruskan saja dengan menggodanya.

“Ohh… dari istri yang mana?”

“Serius, ini serius, itu anak ku. Hak asuh di aku”

Baiklah. Yang ada di otak saya saat itu hanya terus berbicara agar tidak kaku. Padahal otak saya mulai kacau. Pulang dari sana, saya hanya bisa tertawa. Lucu sekali. Saya hampir jatuh pada seorang Bapak.

Sejak hari itu, saya tetap berteman dengan Dindra. Statusnya tidak akan membuat saya menjauh. Buat apa? Tapi seperti ada batas di situ. Sebaik apapun dia, dia tetap teman. Tapi, ya jujur saja. Nyaris sekali. Nyaris. Sedikit lagi. Saya ini lemah dengan pria yang memiliki frekuensi humor yang sama dengan saya. Itu saja. Simpulkan saja sendiri nyaris apa.

p.s : Kesamaan nama dan kisah? ah kebetulan saja. Jangan dipikirin dan dicari tau, apalagi diambil hati. Kay?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s