Trafalgar Square

Sebuah cerpen karya Reny Fatria

“Terkadang bukankah akan lebih baik kalau kita tidak mengerti,

membiarkan sesuatu tetap menjadi misteri dan selamanya sesuatu itu akan berurat, berakar dalam memori.”

Waktu London menunjukkan pukul 5 sore tapi kau masih asyik dengan matamu yang berkeliaran dalam setiap sudut National Gallery di Trafalgar Square. Langkahmu terhenti pada lukisan abstrak karya seniman Spanyol ternama, Pablo Picasso. Mesin dalam kepalamu bekerja dan berusaha memproses produk yang bernama kesimpulan, mengartikan maksud sang pelukis.

“Terkadang bukankah akan lebih baik kalau kita tidak mengerti, membiarkan sesuatu tetap menjadi misteri dan selamanya sesuatu itu akan berurat, berakar dalam memori.”

Kau terkejut, disampingmu telah berdiri seorang pria yang cukup menarik, kau menganggapnya begitu karena pria itu lebih tinggi darimu, begitu atletis dengan wajah yang akan membuat para gadis melirik. Rambutnya pendek, lurus tersusun rapi dengan warna hitam kelam dan berkilau seperti malam yang disinari oleh cahaya bulan tapi kaupikir hal itu mungkin karena minyak rambut yang dipakainya. Hidungnya mancung dan artistik layaknya pahatan patung-patung gips, bibirnya agak sedikit hitam, mungkin karena rokok dan kulitnya seperti matahari yang baru mau terbit. “Ah..terlalu banyak perumpamaan.”, pikirmu. Dia melihatmu dan bertanya,

“Kau orang Indonesia bukan? Karena rasanya aku pernah melihatmu di embassy.”

“Ah, ya.” Kau tergugup dan merasa malu.

Dia hanya tersenyum simpul, senyum simpul yang akan membuat semua bunga bermekaran dengan indah.

Pria itu bernama Hachi, dari sikapnya dan cara bicaranya yang begitu tenang kau berpikir pastilah ia telah berlatih Hachi tingkat tinggi.

“Rie, namamu bagus ya. Jadi berapa lama kau akan tinggal disini?”

“Summer course yang kuikuti akan selesai 2 minggu lagi, jadi..mungkin aku akan langsung pulang.”

“Sayang sekali.”

Kemudian dia mengajakmu bercakap-cakap mengenai banyak hal, seni, sastra, hobi, sampai peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di Indonesia.

Diapun ingin bertemu kembali denganmu di Trafalgar square di waktu yang sama di depan National Gallery.

______________________

Esoknya, ketika matahari hampir menutup mata, Hachi melangkahkan kaki ke depanmu dengan senyum simpulnya.

“Kau terlambat.”

“Maaf, tadi dosenku mencuri waktu.”

Hachi adalah mahasiswa sastra tingkat akhir di Oxford University, dia mengatakan padamu mungkin satu tahun lagi dia akan lulus dan setelah itu dia akan pulang ke rumah, rumah yang tidak ingin dia jadikan sebagai tempat pulang. Kaupun bertanya-tanya, kenapa. Hachi menatapmu seolah bisa membaca pikiranmu.

“Rumah itu adalah neraka, rumah yang begitu besar dengan banyak kamar penyiksaan.”

Kau mengernyitkan dahi dan Hachi menertawai ekspresimu. Candaan yang menurutmu sama sekali tidak lucu.

“Ayah dan ibuku bercerai, setidaknya itulah impianku. Ibuku sangat mencintainya atau takut kepadanya, aku tidak tahu dan tidak mengerti jalan pikirannya padahal sebutan ayah sangatlah tidak pantas dialamatkan untuk orang itu.”

“Setiap hari dia menebarkan kegelapan pada sekujur tubuh ibuku dan aku hanya diam tapi diam tidak berarti kalah karena aku telah membunuhnya, seribu bahkan sejuta kali dalam mimpiku.”

Pembicaraan 5 hari yang lalu bersama Hachi tidak bisa membuatmu memejamkan mata, setiap kali kau telah berada di alam bawah sadarmu, bola mata hitam Hachi yang penuh kebencian terus membayangimu, mengejarmu dan kaupun tersadar. Akhirnya kaupun memutuskan untuk menunggu Hachi di Trafalgar Square, ingin memastikan suatu hal yang kaupun tak tahu apa itu.

_____________________

Trafalgar Square di hari Minggu begitu ramai, sesak oleh orang-orang, kicau burung-burung merpatipun tak mau kalah ingin ikut mewarnai. Trafalgar Square adalah jantung kota London, di sisi selatan kau bisa berjalan ke Whitehall, dimana kau akan menemukan Buckingham Palace dan tidak jauh dari sana, Big Ben berdiri tegak dengan jam raksasanya untuk memberikan informasi waktu biarpun kau tidak memintanya. Seperti biasa kau menunggu Hachi di depan National Gallery di sisi utara Trafalgar Square, berharap kau akan menemukannya secara kebetulan.

“Kau mencariku?” Kau terkejut karena Hachi tiba-tiba telah berdiri dibelakangmu, dan kembali menertawai ekspresimu.

Hachi mengajakmu makan di café teras, dia menceritakan kegiatannya selama 5 hari ketika tidak bertemu denganmu, bagaimana professor-profesor kolot di kampusnya yang merasa mengetahui seluruh isi dunia telah membuatnya begitu muak. Kau mendengarkan cerita Hachi seperti membaca sebuah novel yang berdasarkan kisah nyata. Menatapnya membuat pikiranmu melanglang buana hingga ke tempat peraduan, yang akhirnya membuat dirimu tersipu-sipu.

Hachi sepertinya tidak memperhatikan gelagatmu, dia begitu asyik dengan ceritanya tapi berbeda dengan pengunjung-pengunjung café yang lain, yang menatapmu dengan pandangan membingungkan dan kaupun menjadi heran tapi kau segera mengambil kesimpulan bahwa saat ini kau sedang duduk berhadapan dengan pria yang memang menarik perhatian semua orang.

Tak terasa siang telah beristirahat, kau dan Hachi lalu duduk di kursi taman mengarah ke kolam besar Nelson, yang berhadapan langsung dengan National Gallery.

“Hachi, apakah selama kuliah disini, kau pernah pulang kerumah?”, tanyamu.

Raut wajah Hachi segera menunjukkan perubahan seolah menggambarkan peristiwa revolusi industri, dimana posisi manusia tergantikan oleh mesin.

“Pernah” jawabnya dengan dingin.

“Tapi tidak lama”

“Karena rumah itu sudah hancur seiring kepergian ibuku.”

“Maaf ” jawabmu dengan nada penuh penyesalan,

“Tidak apa karena aku berbahagia.”

______________________

Setelah itu kaupun tidak pernah bertanya lagi mengenai rumahnya maupun keluarganya. Kau telah selesai membaca novel yang berjudul “Hachi, jilid satu”, sekarang kau sedang membaca jilid keduanya dan kau tidak menginginkan cerita ini berakhir.

“Hachi, besok aku akan pulang, tapi aku ingin kita tetap bisa berhubungan lewat

e-mail.”

“Aku membenci teknologi, teknologi memperbudak manusia, mengurangi sosialisasi dan hanya akan membuat manusia jadi sama sepertinya, mesin-mesin tidak bernyawa.”

Kau hanya diam, karena kau tahu membantahnya adalah tidak mungkin, pria dengan idealisme yang begitu tinggi, tidak akan pernah kalah dalam perdebatan.

Kaupun beranjak dari dudukmu, mengulurkan tangan dengan maksud bersalaman. Hachi menyambut uluran tanganmu.

“Aku senang sekali dapat mengenalmu.”

Tiba-tiba Hachi menarikmu dan kaupun jatuh ke pelukannya. Dia memelukmu dengan erat sehingga kau dapat merasakan hangat tubuhnya.

“Tinggallah bersamaku di sini.”, ujarnya memelas.

Kemudian kau menarik dirimu dari pelukannya,

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Maaf.”

Hachi sepertinya begitu kecewa. Kau bergerak menjauhinya, yang tetap berdiri tegak di Trafalgar Square, sampai kau mendengar Hachi memanggilmu,

“Rie..” kaupun menoleh, melihat Hachi melambaikan tangannya, dan berseru, “Terimakasih.” Kau dengan segera membalas lambaian tangan itu.

Ketika kakimu membawamu lima langkah ke depan , kau berbalik arah memandang Trafalgar Square, berinisiatif mengingat Hachi untuk terakhir kalinya. Tapi malam dingin mencekammu, dan tubuh Hachi yang hangat tidak meninggalkan jejak. Apakah malam telah membunuhnya?

________________________

Pulang kerumah, merasakan udara Jakarta yang terkontaminasi sudah biasa bagimu dan hari ini, seperti hari-hari lainnya kau berebut tempat di Trans Jakarta. Kursi sepertinya tidak bersahabat padamu, menjauhimu dan memaksamu untuk berdiri.

“Hei! Rie, masih ingat aku kan? Maria, kita dulu satu kelas di SMP.”

“Ya ampun Maria, tambah cantik aja kamu. Mau kemana?”

“Kerja, kalau kamu?”

“Mau ke kampus.”

“Main ke rumahku ya..” seraya memberikan kartu namanya padamu,
“Oce deh.”

Tak terasa taksi sudah membawamu ke depan pagar rumah Maria. Rumah itu tak terlalu besar, dan sudah lebih dari cukup untuk di huni oleh 4 orang anggota keluarga karena seingatmu selain ayah dan ibu, Maria memiliki satu adik laki-laki yang mungkin sekarang sudah berumur 10 tahun. Kau membunyikan bel dan Maria sendirilah yang keluar untuk menyambutmu.

“Rie, ayo masuk…silakan duduk ya, aku ambil minum dulu.”

“Gak usah repot-repot.” katamu, mencoba berbasa basi.

Maria tetap pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untukmu.

Telingamu sepertinya menangkap suara jeritan dari salah satu kamar di rumah itu, kaupun berlari menuju arah dimana jeritan itu berasal, kau membuka pintunya dan pemandangan yang kau saksikan membuatmu begitu trenyuh, adik laki-laki Maria dan ibunya berada di dalam kamar itu. Sang ibu dengan wajah yang tak berbentuk lagi sedang mengobati punggung anak laki-lakinya yang penuh dengan memar. Laki-laki kecil itu melihatmu, dan matanya mengingatkanmu pada Hachi. Kau tertegun! dan Maria menarik tanganmu, membawamu ke ruang tamu,

“Rie, maaf kau harus menyaksikan …”, air matanya tak terbendung, kau kemudian tanpa sengaja melihat memar yang begitu besar seperti sebuah pulau di balik kerah bajunya,

“Siapa yang melakukan semua ini?”, tanyamu dengan nada sedikit memaksa,

“A..ayahku.”

_______________________

Malam menyembunyikan kehadiranmu, dan kau sangat heran kenapa kau bisa berdiri disini, di depan rumah Maria. Apa sebenarnya yang akan kau lakukan? Tanyamu pada diri sendiri. Deru mesin mobil terdengar mendekatimu, kemudian berhenti tepat di hadapanmu. Kau mengambil langkah cepat mendekati pria yang keluar dari mobil itu. Dan tiba-tiba kau merasakan kehadiran Hachi disampingmu,

“Hachi.. Apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia bisa ada disini?”, bisikmu dalam hati.

Kemudian kau melihat darah yang mengalir dengan deras , kau melangkah mundur dan melihat Hachi telah menghunuskan pisau tepat di jantung pria itu,

“Apa yang kau lakukan Hachi?”, teriakmu.

Lagi dan lagi menghunuskan pisau itu.

“Jangan lakukan itu!Pria itu akan mati!”

Lagi dan lagi menghunuskannya.

Hachi hanya tersenyum simpul padamu, senyum yang sama ketika kau melihatnya di Trafalgar Square kemudian keberadaannya menghilang seperti ditelan oleh malam.

______________________

Angin menyentuh rambutmu yang lurus pendek, hitam dan berkilau seperti malam yang diterangi cahaya bulan, hidung mancungmu yang artistik layaknya pahatan patung-patung gips, menghirup udara malam yang dingin. Langkahmu kemudian terhenti di bawah sorotan cahaya lampu jalan, kau menggigit bibirmu yang sedikit hitam sambil  memandangi tanganmu yang bersimbah darah.

Palembang, 11 Oktober 2006

Buat EQ, adikku tersayang.

(Dengan sedikit ubahan nama tokoh :p)

Pujaan Hati

Cerpen Karya Reny Fatria

Duduk ia di sudut café itu, tempat ia biasa bertemu sang pujaan hati. Tak terasa air matanya mengalir biarpun tak sederas hujan di luar sana. Dibukanya hadiah yang tak sempat ia berikan, seekor kadal yang sangat langka. Kadal itu bergerak menjalari tangannya dan air matanya terus turun.

Anak-anak SMA yang tak memedulikan hujan, bersenda gurau di luar sana mengingatkannya pada pujaan hatinya.

Pagi hari di sekolah, kelas 3A yang sepi dan hening.

“Ryuuu…..ngapain kamu!!!” Ryu yang sedang merokok di kelas, terkejut, rokoknya mengenai tangannya, “Sialan lo Saki!”.

“Kuaduin sama guru. Baru tau rasa lo.”

“Silakan…aku aduin juga lo!”

“Aduin apa?Sama siapa?”

“Kuaduin sama Tuhan, semalam kita seperti hewan!”

“Enak aja!Yang hewan tuh elo.”

“Saki, darmawisata ntar kita ikut yuk.”

“Ngapain sih..”

“Kita kan bakal ke Puncak. Dinginnya malam..indahnya pemandangan dan Saki yang terlihat sexi dalam balutan bikini..wah seru tuh!”

“Ke Puncak pakai bikini!Gila lo ya!”

“Imajinasi adalah dunia tanpa batas, honey.” Ryu meraih tubuh Saki dan meremas payudaranya yang penuh.

“Jangan!Klo diliat orang gimana?Dasar eksibisionis sakit!”

___________________

Dia meminum jus strawberry yang dipesannya tadi, rasanya begitu manis sehingga dia mengernyitkan dahinya. Manisnya minuman itu tak dapat mengalahkan rasa pahit yang dirasanya.

Dua hari yang lalu di café yang sama, Saki menyeruput jus strawberry miliknya sampai habis, Ryu melihatnya dengan heran.

“Manusia ato bukan sih lo. Mana ada orang yang ngabisin minuman sekali tarikan napas kayak lo.”

“Ryu..”

“Apa?!Iya gue tahu tar gue cariin kadalnya buat lo seorang. Dasar cewek aneh!Pengen kadal sebagai hadiah ulang tahun, biasanya cewek tu suka yang romantisan, bunga kek, coklat kek..”

Saki tersenyum, “Gue…ya gue..”

_________________

Dimasukkannya kadal itu ke kotak. Ingin rasanya ia membunuhnya. Mencekik kadal itu sampai mati.

Dua jam sebelum ia duduk di café itu. Dia pergi ke tempat Saki, kamar kosnya tak terkunci, “Mungkin Saki lupa menguncinya.” Dibukanya pintu itu, pujaan hatinya tak terlihat. Duduk ia di tempat tidur, tempat favorit mereka berdua.

Ia mendengar suara dari dalam kamar mandi, “Oh..ternyata Saki lagi mandi ya.” Bisiknya dalam hati. Dengan cepat ia lepas jaketnya, kaosnya, jeansnya dan menerobos pintu kamar mandi yang tak terkunci.

Seorang pria sedang merengkuh tubuh pujaan hatinya dengan tangannya yang besar, tangan yang sama dengannya, tapi bukan dia.

“Ryu!!Ryu!!Dengarkan dulu penjelasanku.”, teriak Saki.

Ia berlalu.

___________________

Kadal itu menggeliat di dalam genggaman tangannya, berusaha mempertahankan hidupnya, “MATI!!MATI KAU!!MATI!!”

Dia melihat Saki memasuki café, berjalan menghampiri duduknya. Dengan mata yang penuh kemarahan tak tertahankan, dia menatap Saki dengan tajam.

“Ryu..Sepertinya aku bukanlah pujaan hatimu lagi.”

___________________

Jauh sebelum itu…

“Ayah!Ayah!” teriaknya. Ia menemukan ayahnya tertidur di ruang kerjanya. “Ayah!Ayah!Bangun yah, dia datang yah. Cepetan bangun dong, kenalan dulu yah.”

Dengan malas ayahnya membuka mata. Ia kemudian menarik ayahnya dan mengajaknya ke ruang tamu.

“Ayah kenalin, ni Saki, pujaan hatiku.”

Saki yang terlihat malu, menyodorkan tangannya, “Senang bisa bertemu dengan ayahnya Ryu.”

Tangan ayahnya yang besar menyalami Saki, tangan yang sama seperti dirinya.

Dan dilihatnya mata ayahnya yang sedang menatap Saki seolah ingin memilikinya.

                                                            Palembang, 16 November 2007

DUNIA

Sebuah cerpen karya Reny Fatria

“Dia memandang dunia yang membosankan untuk terakhir kalinya, masuk ke dalam kegelapan hati yang merasuk sukmanya.”

Menjelang subuh itu, ketika dekapan tidak lagi menyembuhkannya, dia memutuskan untuk pulang kerumah. Jam di tangannya menunjukkan pukul 4 pagi, dia mengerti benar bahwa pintu takkan terbuka untuknya. Kemudian dia teringat sesuatu, dahan pohon jambu yang menjorok kearah jendela kamarnya. Dia pun memanjat, tak pedulikan luka tangannya yang tadi bergesekan dengan ranting. Dia berbisik dalam hati,

“Ah, akhirnya sampai juga.” Namun kenyataan menusuk matanya yang jernih, seolah dosa tak pernah menghampirinya, jendela kaca gesek dan transparan itu tak sepenuhnya tertutupi gorden biru yang ibunya rajut sendiri. Dia terluka, menyaksikan sang ibu berdua, bercumbu rayu dengan pria yang tidak asing baginya, temannya, sahabat terbaiknya, dan mungkin juga cintanya, yang dia tahu tapi tak pernah dia akui.

___________________

Pagi itu, ketika ibunya memasak sarapan, nasi goreng ati kesukaannya, dia mengetuk pintu dengan berat, namun pikirannya bekerja keras, memikirkan sejuta alasan kenapa dia tidak pulang. Ibunya membuka pintu, menatapnya seolah penuh kecemasan, dan bertanya, “Dari mana saja kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak memberitahu ibu? Ibu terus menerus mencoba menghubungi handphonemu, tapi tidak aktif, selalu saja veronica yang menjawabnya”

Ia tersenyum tapi tak bimbang,

“Andi menginap di kosan teman, bu. Hape andi lowbat, di sana tidak ada telpon, jadi andi tidak bisa menghubungi ibu..”

Sebenarnya dia ingin sekali mengucapkan kata maaf, tapi apa yang dia lihat tadi subuh, mengurungkan niatnya.

“Kamu kan bisa kasih tahu ibu sebelumnya, memangnya untuk apa kesitu?”

Dalam hati dia berkata, “Memangnya apa yang ibu lakukan tadi subuh?”

“Tugas kuliah bu. Tidak taunya sudah malam, makanya andi menginap disitu.”

“Ya sudah, kamu sudah mandi atau belum? Kalau belum, ayo mandi. Ibu tadi masak nasi goreng ayam buat kamu.”

Langkah kakinya terasa berat di tangga yang menuju kamarnya. Dia melihat tempat tidurnya begitu rapi dan menyentuhnya. Indra sentuhnya mendeteksi kehangatan, mungkinkah karena ada api yang membara, telah membakarnya? Dia tidak mau tahu. Air  dikamar mandinya dia gunakan untuk mendinginkan kepalanya. Diapun merasa kesal karena kepalanya tidak kunjung dingin. Airpun sampai pada dadanya yang bidang, dan membasuhnya dengan tangan, yang pernah dia pakai untuk memukuli ayahnya, dia tahu dia dalam keadaan terluka saat merasakan pedih,

“Tanganku..Sial” ujarn

Dia mendapati ibunya di dapur, yang dulu, sewaktu dia masih kecil, dia selalu melihat ayahnya menciumi tengkuk ibunya setiap pagi. Otaknya merangsangnya untuk kembali pada peristiwa 5 tahun yang lalu, 2 hari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-18. Hari itu, hari yang takkan pernah dia lupakan, ayah, yang selalu dia banggakan, hormati dan cintai, duduk berdampingan di sebuah café dengan seorang wanita yang dia yakini sebagai sekretaris ayahnya. Mereka, dengan bahagianya, makan berdua. Bahkan sesekali ayahnya melemparkan senyuman kemudian mengecup pipinya yang putih bersih. Darahnya mendidih mengingat ibunya, yang penuh pengabdian pada keluarga. Terkhianati!. Langkahnya semakin cepat, mendekati ayahnya, menyeret ayahnya ke lantai café itu dan memukulinya.

Nasi goreng ayam yang dia makan begitu cepat membuatnya tersedak. Ibunya berkata,

“Pelan-pelan”

“Di, hari ini ibu ada rapat guru. Mungkin ibu akan pulang sore, jadi sebaiknya kamu bawa kunci rumah ya”

Dia cuma mengangguk.

_______________________

Siang itu, di kampus, dia bertemu gadis yang terus mendekapnya semalaman. Yang membawanya pergi meninggalkan dunia, pergi ke langit ketujuh. Namun tak membuatnya merasa puas, karena hatinya tetap saja merasakan hampa.

“Di, bagaimana kalau nanti kita sama-sama merengkuh malam?”

Gadis itu selalu berbicara dengan puisi padanya, layaknya memamerkan diri bahwa dia mengambil jurusan sastra.

“Gadis bodoh!” pikirnya dan dia hanya tersenyum.

Matanya mencari jejak Ryo dan menemukannya dalam balutan kaos oblong hitam dan jeans biru. Ryo, sahabatnya sedari SMA, selalu menakjubkan dan memukaunya. Ryo mengajaknya masuk ke ruang kuliah dan menikmati mata kuliah kalkulus, yang tidak pernah membuatnya lulus. Ryo yang duduk disampingnya lebih menarik untuk dinikmati daripada semua mata kuliah yang ada. Ryo memberikan secarik kertas yang berisi coretan tangannya, “Ada yang ingin kubicarakan, PENTING!”

______________________

Nyanyian Ryo begitu merdu seperti nada-nada yang bersambung dengan teratur, lidahnya, gerak bibirnya mencerminkan ketenangan. Dia jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada orang yang berada dihadapannya. Di ruangan kos itu, tempat dia bermimpi menyentuh setiap inchi tubuh Ryo yang seperti dengan sengaja diciptakan hanya untuknya, dia mendapati jiwanya tenggelam bersama realisme cinta yang Ryo ungkapkan.

“Aku mencintai ibumu, dan tentu kau sangat mengerti cinta tak mengenal kelaziman juga dosa, tapi ibumu merasa sangat bersalah jika kau tidak mengetahui apapun. Dia sangat menyayangimu.”

Dia membenarkan semua yang Ryo katakan, cinta ibunya layaknya sepiring penuh pizza untuknya. Kemudian dia terhantam oleh masa depan yang membentang setelah ini, bahwa pizza itu akan terbagi dua.

“Di, ibumu nanti kemari. Dia ingin dengar dariku pendapatmu, jadi..”

“Apakah itu begitu penting?”

“Tentu saja, kau adalah orang yang kami sayangi”

Sayang? Kami?, dunia benar-benar tidak adil, pikirnya.

“Kau juga ibuku adalah orang-orang yang kusayangi”

Dia tidak percaya, dia memuntahkan sedimen yang begitu lama terpendam, tapi dia tahu kalau sedimen itu tidak boleh hidup dan terpencar, karenanya dia bangun bendungan dalam hatinya dan membiarkannya menjadi fosil-fosil yang tertanam dalam tanah.

______________________

Malam menjelang, ibunya tak kunjung pulang. Sayup-sayup terdengar suara dering telepon dari arah ruang tamu, diapun beranjak turun dengan gontai.

“Halo, siapa ini?”

“Di, ini ibu. Maafin ibu ya mungkin ibu pulang agak malam, soalnya rapatnya begitu seru, ada begitu banyak perbedaan pendapat yang harus disatukan.”

Sepertinya cinta juga membutakan akal sehat manusia, apakah ada rapat guru yang belum berakhir di jam seperti ini?

Dia merasakan kesuntukkan yang luar biasa pada kamarnya, rumahnya, sahabatnya, kekasihnya, ibunya dan dunia. Cinta yang tidak akan pernah kesampaian, menyakitkan. Peluh yang dia keluarkan bersama gadis sastranya, menjijikkan. Kasih sayang ibunyapun takkan sama, dia melolong pada malam, memberikan keluh pada dunia.

Keanoniman datang bersama kegelapan, seraya mengulurkan tangan mengajaknya ikut serta. Dia hanya terpana, menatap lekat bayangan jiwanya yang anonim. Rongrongan, raungan, terdengar berasal dari lukanya yang menganga, mengalirkan darah. Dia memandang dunia yang membosankan untuk terakhir kalinya, masuk ke dalam kegelapan hati yang merasuk sukmanya.

Palembang, 08-Oktober-2006