The way i lose him

“Kamu tau? Cinta itu, bisa kadaluarsa”

Saya saat itu kuliah di salah satu universitas swasta di sebuah kota yang bila disebut namanya yang teringat hanyalah kenangan. Tak lebih dan tak kurang. Saya berumur 19 tahun kala itu. Masa-masa saat mendengar kata jangan maunya melanggar (sekarang juga sih, kadang). Masa-masa saat mendengar kata harus malah tidak dilakukan. Cikal bakal jiwa yang memberontak datang terlambat. Di umur 19 tahun, jauh dari orang tua, jauh dari saudara, jauh dari pacar, jauh dari pengawasan. Kalau saya mau jadi nakal, inilah saatnya.

Tahun pertama, seperti biasa, saya melewati hari-hari perkuliahan dengan image anak baik. Setiap pergi, laporan ke orang tua, laporan ke pacar. Detail. Pergi ke mana, dengan siapa, naik apa, dibonceng siapa. Iya, dibonceng siapa adalah laporan wajib untuk sang pacar saja. Kalian tau sendiri bukan? Masa perkuliahan itu adalah masa yang sangat sulit menghindari bepergian dengan laki-laki, dan sangat tidak menutup kemungkinan akan ada masanya harus pergi berdua saja. Entah itu ada urusan perkuliahan, entah harus fotokopi tugas, entah pulang malam dari rapat bersama, entah mau nebeng saja karena pulang searah dan malas pulang sendirian. Namun sayangnya, dulu, dia tidak mau mengerti. Padahal dia juga saat itu sedang kuliah. Hal ini membuat saya sedikit tidak terbuka dan mulai menutupi hal-hal yang saya anggap akan menimbulkan curiga.

Ada angin apa, atau saya sedang berulang tahun waktu itu, dia datang berkunjung. Masih dengan kadar perasaan yang sama seperti dulu pertama kali kembali padanya. Tak lebih dan tak kurang.

Saya ajak dia ke gedung perkuliahan saya. Saat saya istirahat, saya mengajak dia bergabung dengan teman-teman saya yang lain. Dia berkenalan dengan teman-teman dekat saya. Dia memang termasuk orang yang mudah bergaul (tidak seperti saya yang keringat dingin kalau masuk ke kelompok baru). Malam terakhir sebelum dia kembali ke kotanya, kami duduk di ruang tamu. Melihat-lihat folder foto di laptop saya. Kebetulan, saya habis jalan-jalan kelas. Dia melihat satu persatu foto-foto itu dan berhenti di satu foto. Di foto itu saya duduk di samping teman laki-laki saya, yang tadi sempat berkenalan dengan dia di gedung perkuliahan saya.Sebenarnya di foto itu laki-lakinya hanya satu, yang lainnya perempuan. Ada 3 orang perempuan lainnya di situ. Salahnya, saya duduk di samping laki-laki itu.

” Ini siapa, Dek?”

” Itu teman sekelasku tadi, namanya Bowo, Nda”

“Kenapa harus duduk di situ?”

Mulai. Malam sudah semakin malam. Saya menjelaskan bagaimana sifat dan sikap Bowo ini menurut teman-teman sekelas saya biar dia paham kalau di antara kami tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi tetap tidak masuk di akalnya. Jurus terakhir seorang perempuan apa kalau sudah begini? Air mata. Akhirnya dia minta maaf namun dengan peringatan bahwa Bowo pasti punya perasaan pada saya kalau saya tetap bersikap begitu terus pada Bowo. Tinggal tunggu waktu saja. Saya yang terlahir dengan tingkat GR di bawah 0% tidak mengindahkan kata-katanya. Saya begitu yakin bahwa di dunia ini hubungan platonik itu ada.

Setelah dia pulang, saya tetap menjalin hubungan baik dengan semua orang. Termasuk Bowo tentunya. Saya tetap makan bersama Bowo, ke mana-mana bersama Bowo. Kadang ramai-ramai, kadang berdua saja. Dia sering mengantar saya pulang jalan kaki. Kalau malam sering menemani saya makan di angkringan. Semata-mata dengan moto hidup saya bahwa hubungan platonik itu ada. Sampai akhirnya, saya menyadari sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah disadari oleh pacar saya lebih dulu. Iya, Bowo menyukai saya. Dan bodohnya, karena tidak mau kehilangan sahabat, walau saya tau dia menyukai saya, saya tetap berada di dekatnya tanpa menerima perasaannya. Yang benar saja, saya punya pacar.

Semakin sering bersama Bowo, saya kasihan. Setan dari mana berkata pada saya, “Yang benar saja kamu, setelah apa yang kalian berdua lalui setiap hari kamu tetap tidak bisa membuka hati? Buat apa mempertahankan dia yang jauh itu? Mengantarmu pulang tidak bisa, menemanimu makan tengah malam tidak bisa, menonton film baru di bioskop tidak bisa, dan .. apa kamu yakin di sana dia setia? Lupa dengan kejadian dulu-dulu? Termaafkan begitu saja? Selingkuh saja sudah.”

Saya sempat masuk ke kelas perkuliahan dengan mata bengkak dan Bowo menyadari ini dan bertanya kenapa nyawa saya seperti tidak ada di kelas. Semalam saya habis bertengkar. Lagi. Entah karena rindu atau kesepian, saya benar-benar ingin dia mengunjungi saya dan dia tidak bisa. Ditambah pertengkaran-pertengkaran yang tak jauh-jauh dari masalah dulu-dulu itu, setan di belakang saya menunjukkan taringnya seakan berkata, “Kan”.

Malam itu, saya memutuskan untuk berpisah saja. Sebenar-benarnya berpisah. Melupakan semuanya. Keinginan saya untuk menjalani hidup dengan bebas menambah kuat keputusan saya. Ditambah rasa kasihan saya pada Bowo yang sudah begitu baik pada saya. Saya melepas dia. Saat itu di dalam hati saya berkata, mungkin saat ini saya sedang melepas emas untuk arang yang belum jadi, tapi sudah tidak apa-apa. Sudah terlalu lama bersama adalah satu-satunya alasan hubungan ini tetap berjalan. Dan terlalu lama bersama dengan sekian banyak masalah yang ada sungguh bisa membuat rasa cinta itu kadaluarsa.

.

.

Sungguh kadaluarsa? Tidak. Bisa saja hubungan ini dipertahankan. Itu hanya pembelaan. Saya yang salah.

p.s : Kesamaan kisah, nama dan tempat jangan diambil hati :p

Secuil Kisah di Sekolah

Pratama

Sampai saat ini, mengakui bahwa saya mencintai seseorang masih tidaklah mudah. Apalagi dulu, sewaktu saya masih merasa bahwa saya masih belum cukup umur untuk mencintai. Bahkan dulu, saya begitu pemalu bila bertemu dengan seseorang yang saya tau dia menyukai saya. Saya bisa berputar arah bila dari kejauhan saya melihat sosok orang yang menyukai saya. Dan ini, hanya sedikit kisah masa sekolah yang saya coba bagikan untuk mengenang bahwa rasa itu bisa begitu sederhana dan membahagiakan. Dari sekian banyak kisah yang bisa diceritakan, saya memilih menceritakan kisah yang ini (dulu) karena kalau dipikirkan lagi, ternyata ini pertama kali saya menyukai seseorang (dengan agak serius).

Sebut saja namanya Pratama. Dia berkulit cokelat, bertubuh tinggi, memiliki hidung yang mancung, dengan dahi ditutupi poni. Pertama kali saya mengenal dia karena dia adalah teman dekat dari teman sebangku saya. Dia sering sekali mengganggu teman sebangku saya itu. Seharusnya, saya tidak berada di kelas yang sama dengan Pratama dan Dila. Saya lupa seharusnya  saya itu berada di kelas VII A atau apa. Tapi, saya mengajukan diri untuk pindah karena orang-orang di kelas itu auranya suram, entah kenapa. Sayapun pindah ke kelas VII B, teman-temannya lebih asyik dan kelasnya lebih hidup, lebih ramai.

Saya, Pratama, dan Dila sering bermain bersama. Makan siang bersama. Sampai akhirnya, saya tau kalau Pratama menyukai Dila. Karena itu, Pratama sering cerita dan menanyakan pendapat saya mengenai Dila. Waktu itu, komunikasi hanya menggunakan SMS dan sesekali lewat telepon. Dulu, entah kenapa saya merasa sangat belum cukup umur untuk komunikasi dengan laki-laki. Bila ada SMS atau telepon, saya harus sembunyi dari saudari perempuan saya dan Ibu saya karena saya malu kalau ketahuan sedang komunikasi dengan laki-laki.

Saat itu, pembicaraan saya dan Pratama tidak jauh dari hal-hal tentang Dila. Sampai akhirnya, Pratama memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Dila. Namun saya lupa apakah perasaan suka Pratama berbalas atau tidak, atau Pratama tidak jadi mengungkapkan perasaannya. Saat itu, saya ternyata sedang disukai juga oleh anak kelas VII A (kalau tidak salah), namanya Reihan. Reihan dan Pratama saling kenal. Pratamapun sering menjodohkan saya dengan Reihan. Sampai akhirnya, saya mengikuti tes untuk masuk ke kelas percepatan dan lulus. Akhirnya, saya harus berpisah dari mereka dan masuk ke kelas yang isinya 30 anak terpilih dengan IQ di atas standar yang ditentukan.

Sejak itu, saya semakin jarang bertemu Pratama. Namun, saya dan Pratama sering bertukar pesan untuk berbagi cerita. Tentang Dila, tentang Reihan. Sampai pada akhirnya, Pratama berkata bahwa sepertinya dia tidak se-suka itu pada Dila. Dia hanya menjadikan Dila alasan agar bisa tetap berkomunikasi dengan saya. Bagi saya yang saat itu baru berumur 13 tahun, hal sekecil itu sudah membuat wajah saya memerah saking mudahnya saya percaya pada seseorang. Dan karena saat itu saya masih berumur 13 tahun juga ditambah saya diharuskan belajar ekstra maka saya tidak membalas perasaan Pratama. Padahal saya akui, sudah lama saya menyukai Pratama. Bahkan mungkin, saya yang lebih dulu menyukai dia.

Pratama semakin ditolak bukan malah mundur, dia menjadi sering mengunjungi kelas saya sampai satu kelas tau kalau ada laki-laki yang sedang menyukai saya, namanya Pratama. Saat itu, saya hanya anak umur 13 tahun yang walaupun saya suka, saya tidak akan pernah menunjukkannya, karena saya merasa saya masih kecil. Saya hanya bisa menghindar kalau saya tau di kejauhan sana ada dia sedang berjalan ke arah saya. Bahkan saya bisa lari, namun Pratama semakin mengejar. Sifat laki-laki mungkin, semakin ditolak semakin jadi.

Setiap tahun, sekolahku mengadakan Study Tour yang bisa diikuti oleh semua murid dari kelas 1 sampai kelas 3. Saat itu, sekolah saya menjadikan Pagaralam sebagai destinasi wisata. Saya dan seluruh anak kelas akselerasi IV kalau tidak salah ikut semua, tetapi sedikit dari kelas reguler yang ikut. Namun, dari sedikit orang tersebut, ada nama Pratama. Beruntungnya, saya dan Pratama tidak dalam satu bus. Saya bisa bernafas dengan tenang, pikir saya. Selama di Pagaralam, saya sebisa mungkin tidak bertemu dengan Pratama. Sialnya, saya harus bertemu dengan Pratama saat saya sedang bermain dengan teman lelaki saya, Khalik. Entah saya lupa sedang bermain apa, saya terpeleset dari bukit kecil dan ternyata Pratama tepat berada di depan saya. Melihat hal tersebut, dia tertawa keras sekali. Pratama menjadikan itu sebagai bahan ejekan bahkan sampai saat ini. Dari dulu, saya memang begini. Saya menyukai siapa, tapi dekatnya dengan siapa. Selama di Pagaralam, tidak pernah sekalipun saya menghabiskan waktu dengan Pratama. Saya malah sibuk bermain dengan teman-teman yang lain, sibuk diciyekan dengan yang lain dan perjalanan 3 hari itu berlalu begitu saja.

Sepulang dari perjalanan itu, saya semakin menjauh dari Pratama. Saya juga sangat sibuk di kelas yang setiap semesternya ada sistem eliminasi ini. Mungkin, Pratama mulai lelah. Dia mengirim pesan yang intinya dia berangkat ke Pagaralam itu memang karena saya dan untuk saya. Foto saya di Pagaralam yang diambil oleh fotografer sekolah untuk dijual pun sudah hilang duluan, dan ternyata Pratama yang beli. Pratama mundur teratur sejak saat itu. Sampai akhirnya saya mendengar kabar, kalau Pratama sudah punya pacar. Sejak saat itu, Pratama tidak pernah mengirimi saya pesan lagi.

Pertama kali melihat dia berjalan beriringan dengan pasangannya ada perasaan tidak enak. Tapi waktu itu saya baru berumur 14 tahun yang tidak tau kalau itu namanya cemburu. Saya dan Pratama sering melempar pandangan saat berpapasan. Iya, sekarang karena sudah tau dia sudah tidak ada perasaan lagi pada saya, saya berani berpapasan dengan dia. Tapi, di situ ada satu yang tidak berubah, saya tetap menyukai dia dengan siapapun dia waktu itu.

Selang waktu berlalu, saya tidak tau apakah dia masih pacaran atau tidak. Saya juga sudah lama sekali tidak berbicara dengan Pratama. Saat itu, saya berjalan sendirian di koridor menuju kelas dan mendengar ada suara memanggil saya.

“Risya, tunggu!”

Cuma satu manusia di muka bumi ini yang memanggil saya dengan nama itu. Dan benar, itu Pratama. Dia berlari ke arah saya dari kelasnya yang berada di lantai 2. Dia menghampiri saya hanya untuk bertanya,

“Apa kabar?”

Saya saat itu bingung tidak karuan. Saya sendiri tidak sadar, perasaan saya ternyata masih di situ dan mungkin malah semakin besar. Pratama menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Lalu saya menggenggam tangannya sambil berkata,

“Alhamdulillah, baik. Saya naik dulu  ya.”

Dari situ saya sadar, saya memang menyukai dia. Tapi saya masih merasa kalau saya belum pantas untuk hal-hal seperti ini.

Saya yang tergabung dalam kelas berisi anak-anak yang memiliki IQ di atas standar yang ditentukan itu akhirnya berhasil bertahan sampai akhir. Dari 30 anak, yang lulus hanya 20 orang. Karena itu, saya lulus duluan dari Pratama. Saya berpikir, saya yang akan meninggalkan Pratama. Ternyata, tidak. Dia yang meninggalkan saya lebih dulu. Dia harus pindah ke luar kota sebelum kelulusan saya. Di hari terakhir saya bisa bertemu Pratama, kami berjanji untuk bertemu di sekolah. Saya sudah menyiapkan surat, foto, dan hadiah kecil sebagai kenang-kenangan untuk Pratama. Namun, sampai jam yang dijanjikan, dia belum muncul juga. Saya harus pulang karena sudah dijemput, dan akhirnya saya tidak sempat bertemu Pratama. Dia meminta maaf karena terlambat dan memberi alasan keterlambatannya.

Saya dan Pratama akhirnya berjanji untuk bertemu lagi nanti beberapa tahun lagi, saat saya sudah kuliah untuk menyusulnya. Selama dia di Jawa Barat, saya banyak mengetahui kabar Pratama dari Facebook walaupun saya juga masih sering bertukar pesan. Tahun berlalu, saya sudah SMA, Pratama juga. Semakin hari, perasaan suka ini rasanya harus disampaikan. Akhirnya, saya menyatakan perasaan saya pada Pratama lewat SMS, kalau sesungguhnya dari dulu saya juga menyukainya. Dan bodohnya, saya menyatakannya hanya dalam rangka April Fools. Pratama kemudian membalas pesan ku,

“Jangan bermain-main dengan perasaan. Saya saat itu dan sampai saat ini sangat menyukaimu. Mendengar kamu berkata menyukai saya juga saat saya sudah jauh dari kamu itu menyakitkan”

Saya merasa amat sangat bodoh. Saya yang berumur 15 tahun saat itu sungguh tidak tau bagaimana rasanya sakit karena rasa. Tapi, saat itu saya merasa kalau yang saya lakukan pada Pratama adalah kesalahan yang amat sangat salah. Menyatakan bahwa selama ini saya menyukai dia juga tapi kemudian atas nama 1 April saya mengatakan itu semua bercanda belaka. Sejak saat itu, Pratama tidak pernah menghubungi saya lagi. Saya mengetahui kabar Pratama hanya dari Facebook dan dari sana pula saya tau dia sudah punya pacar lagi. Dan gilanya, saya tetap saja menyukai dia dengan siapapun dia. Tak lama dia punya pacar. Saya juga.

Menginjak kelas 2 SMA, saya sudah tidak terlalu peduli pada kabar Pratama. Saya sibuk dengan dunia baru saya. Sampai suatu saat, saya dan keluarga  hendak berlibur ke Bandung. Dari situ, terbersit keinginan bertemu Pratama. Hanya untuk sekedar bertemu. Saya menghubungi Pratama dan mengajaknya untuk bertemu, dan dia mau. Dia tidak datang sendiri tentunya. Saya juga datang bersama keluarga  saya. Saya berjanji bertemu Pratama di Sari Ater. Lama tidak bertemu, saya sudah banyak berubah, begitu juga Pratama. Saya sudah pakai jilbab dan dia semakin tinggi saja. Hal pertama yang  saya tanyakan adalah kabar pacarnya. Saya tidak tau, apakah Pratama tau atau tidak kalau saat itu saya juga sudah punya pacar dan untuk pacar saya waktu itu saya minta maaf tidak memberi tau pertemuan ini (hehe). Pertemuan itu cukup singkat, saya harus pergi lagi. Saya lupa menyiapkan kenang-kenangan untuk dia. Alhasil saya mengambil barang dari diri saya yang ada, bros kecil huruf R dari jilbab saya. Saya kira dia tidak menyiapkan apa-apa juga. Saat saya berbalik arah untuk pergi, dia menaruh syal ke kepala saya. Bagi saya yang saat itu berumur 16 tahun, itu sangat romantis. Saya pergi sambil tersenyum. Dan itu adalah terakhir kali saya dan Pratama bertemu, walau padahal saya menepati janji untuk kuliah di kota yang sama dengannya, saya tidak pernah bertemu dia lagi.

Hubungan saya dan Pratama saat ini tetap baik. Kami tetap berteman. Sesekali dia muncul untuk memberi komentar atau sekadar memberi like. Yang saya tau dari social medianya, dia sudah berganti pacar berapa kali. Tapi penilaian saya pada dia tidak berubah. Dia tetaplah Pratama yang baik. Betapa dulu, rasa itu bisa begitu sederhana bukan? Bahkan setelah tau dia memiliki orang lain, perasaan itu tetap ada di situ, tidak benci, tidak pula merasa dikhianati.

 p.s : Kesamaan kisah, nama dan tempat jangan diambil hati :p