Ya kamu

Untuk kamu, terima kasih ya. Hadirmu bukanlah sebuah keterpaksaan. Yakinlah ini bukan karena kasihan apalagi sesuatu yang mungkin sekarang kamu pikirkan. Itu tidak benar.

Tetaplah jadi kamu yang seperti ini. Jangan berubah. Walau aku mungkin akan hilang beberapa jam tanpa kabar, atau beberapa hari saat marah jangan takut aku akan pergi. Apalagi kembali. Tidak, sayang. Aku hanya sedikit terdistraksi dari kehidupan yang tidak ada kamu di dalamnya. Seperti bermain bersama teman atau menonton acara televisi. Biar rasa rindu itu tumbuh dan ingin segera bertemu kembali denganmu. Sudah lama aku tidak melihat wajahmu, bukan?

Melihat mu saat ini seperti melihat ku dulu. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Percaya pada ku. Aku tidak sebrengsek itu. Apalagi pada mu. Tega sekali aku.

Tunggu aku ya. Yakinlah aku tidak seburuk pikiran mu. Apalagi kata-kata orang itu. Jangan dengarkan. Kalau ada yang bilang aku begini dan begitu, jangan dihiraukan. Jangan biarkan mereka merusak rindu yang sudah kita tumpuk lama ini. Jangan.

Sebentar lagi kita akan bertemu, aku rindu suara mu. Aku rindu senyum dan tawamu. Aku rindu cara mu melihatku. Percayalah, aku ini rindu. Aku akan tetap pada mu apapun yang terjadi nanti. Jangan ragu pada ku.

Kadang, seseorang hanya butuh tempat kembali. Dan tempat kembali ku saat ini, ya masih kamu.

Pieces

You know, why some pieces can not fit together? because they are the same. Like us.

We are those same pieces. How could we fit together if we have the exact same size and curve? and no one wants to change its curve for the other half.

You and i knows each other too damn well, cause you know what’s inside my head and for sure i know what’s inside your head. When you did something and make up a reason, i know deep down what you’re hiding. And You do too.

Sometimes, what comes around goes around. Sometimes we share the same moment. Like we live in a parallel universe. Let me help you understand, when you did something, i did it too. When something happened to you, it happened to me too. And what comes to you, comes to me too. Something like that.

This time, i don’t know what you did or what comes near you that cause me to encounter this condition. So, dear. For this time. Let me be you. And feel it. How does it feel to hear something that i won’t do but deep down you know i’ll do it. Let me filled with the way you think and the way you do.

Cause we are exactly the same pieces. Therefore we always try to seek another chance to find the other pieces that will fit us while waiting each other to sacrifice, to change.

isn’t it? nope?

p.s :

Jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka perbaiki, pantaskan diri masing-masing selagi menjemput jodoh kalian yah guys *ting

Kenapa ada pertemuan kalau akhirnya berpisah?

 

Why hard to say that I still like it was

Love someone who always surprise me

Someone whose kindness I can’t imagine before

Entah kemana dia sekarang, tak pernah cerita apapun lagi, tak pernah berbagi suka duka nya lagi, di moment2 terpenting dlm hidupnya tak ada lagi bagian diri, sedih ya sedih

Mungkin dia msh ingat dulu panas2an jalan kaki kerumahnya, pulang sekolah jalan kaki ke bawah mampir sebentar untuk makan siang dan lanjut lagi sampai ke halte dan foto berdua yaa hanya foto itu yg ada dan selalu ada kemana-mana

Mungkin dia masih ingat waktu pergi bareng utk daftar di suatu univ di dekat masjid Baitul Atiq

Mungkin jg dia msh ingat ktika kami duduk di sofa kosan cerita sepanjang malam

Mungkin jg dia msh ingat kami prnh merayakan idul adha bersama

Ya semoga dia msh ingat

Memang tak byk kenangan indah yg perlu diingat, yg byk hny kenangan2 tak menyenangkan yg pernah kulakukan padanya

Sekarang

Sepi sekali rasanya

Bukan karna tak ada pilihan lain, tapi karna memang tak mau memilih yang lain

Dia itu berbeda, dia itu mengejutkan, dia itu luar biasa, dan dia itu…

ya dia

Orang yang selalu mendoakanku, orang yang menjadi penyemangatku, orang yang menjadi penguat untuk apa aku berlelah-lelah dari pagi sampai malam bekerja dan ini baru perdana bagaimana nanti wah pasti luar biasa jika bersamanya

ya memang dia dan selalu dia

Banyak sekali yg bilang “move on saja” gampang saja jawabnya “iya, andai saya bisa”

ya memang tidak bisa, kalau memang bisa sudah lama

Sengaja selalu menyibukkan diri agar tak terlalu ingat padanya, dan… hampir paling tidak satu minggu sekali dia selalu datang dalam mimpi apaaaa maunya..bikin tambah galau saja

Tak mudah untuk menebak isi hatinya, tak gampang untuk menerka apa yg dipikirnya, terkadang ada moment yg membuat saya percaya diri untuk terus memperjuangkannya, dan juga terkadang down lagi menyebalkan perasaan ini..tapi seru rasanya, hidup makin bergairah untuk terus mencintai

Saya bukan seorang yg ekspresif utk menyampaikan isi hati, mgkn perlu waktu bersama2 agar itu bisa terlatih, komunikasi yg baik bisa menjadi kunci

Sekarang dia tak lagi disini, ummm entah kapan perginya, pdhl ingin skali mengajaknya pergi brsma ibunya

Sampaikan saja padanya kalau ada yang menunggunya disini, ya selalu menunggunya disini entah masihkah ada jalan untuk kembali tapi pasti ada

Kadang berpikir apa dia sudah punya seseorang ya yg menjadi bagian hidupnya skarang entahlah tak mau kupikirkan hal itu saya yakin dia ya dia inshaa Allah dengan harapan yg sama dgnku, usaha yg sama dgnku, dan yg pasti doa yg sama denganku

“jodoh takkan tertukar” seperti katanya dulu ya inshaa Allah jodohku memang dia, jodohnya memang saya. 

mds. 2014

Pertama kali membaca tulisan yang dikirimkan kepada ku ini 3 tahun yang lalu.

Saat aku masih sedang tidak dalam hubungan yang baik dengan si penulis.

Setelah dibaca ulang, aku bertanya pada diriku sendiri.

Kenapa dulu kita bertahan untuk hanya menyakiti satu sama lain pada akhirnya?

Tapi di balik itu semua, kita menyimpan begitu banyak kenangan dan pelajaran.

Yang mungkin masih mempengaruhi cara berpikir ku.

Yang masih menempa persepsi ku terhadap lelaki.

Yang masih membuat ku harus berjuang melawan keraguan hati.

Sampai saat ini.

 

Worth

There are people worth abandoned, but no one deserve to be betrayed” -Fala Adinda

Tidak ada yang pantas dikhianati. Kadang, banyak orang menyalahkan dirinya sendiri atas kelakuan yang sebenarnya adalah kebiasaan dari  pasangan nya. Ada manusia yang memang terlahir dengan rasa tak pernah cukup. Ada manusia yang memang menjadikan berkhianat, berjalan diam-diam dan tidak ketahuan adalah sesuatu hal yang mendebarkan dan menantang. Lalu kembali memeluk dan tersenyum pada pasangan nya yang baru saja ia kesampingkan adalah sebuah pencapaian dalam hidupnya. Memang ada jenis manusia seperti itu. Jangan denial.

Seseorang yang aku kenal baik pernah bertanya, “Apa karena aku kurang cantik?” Tidak. Sungguh tidak. Tidak ada perempuan yang tidak cantik di depan laki-laki yang mencintainya. “Tapi, dia lebih memilih mantan nya”. Itu sudah urusan lain. Setidaknya jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Hargai dirimu sendiri.

Ada lagi, sahabat baik ku yang sampai sekarang masih tak bisa berhenti merasakan sakit dari kenangan bersama mantan nya karena berulang kali terlihat dengan laki-laki lain. Sungguh, kalian tak akan pernah tau sedalam apa luka karena dikhianati. Kalian tak pernah tau apa yang bisa dilakukan orang yang pernah dikhianati. Seperti sahabat ku ini. Tolong  jangan main-main dengan perasaan orang.

Aku, memang (dulu) katakanlah perempuan pemberi harapan palsu. Tapi, mendua? Tidak. Tak akan pernah ada dua cinta, seperti di dalam raga ini tak ada dua Tuhan.

Daripada dikhianati, lebih baik ditinggalkan. Sakit ditinggalkan tak akan se sakit dikhianati bukan? Aku berkata begini juga karena aku pernah merasa dikhianati, lalu ditinggalkan. Sampai sekarang, masa-masa itu adalah masa paling tak terdeskripsikan dalam hidup ku. (Iya ini bahas kamu)

Satu-satu nya jalan bagi keduanya (ditinggalkan dan dikhianati) adalah dengan memaafkan. Tapi, tolong.. bagi manusia-manusia di luar sana yang memang sudah terlahir dengan rasa tak pernah cukup, tolong untuk sedikit berbenah diri.

Ditulis dengan satu jari menunjuk kalian, dan empat jari menunjuk diri sendiri.

27 November 2016

Berlumur kenangan

Punya seseorang yang mengantar mu, dan menunggu kepulangan mu itu nikmat sekali, bukan?

Kaki ku kelu, rasanya aku ingin lebih lama lagi di sini. Kota aku dibesarkan. Bersama Ibu.

4 hari di sini, berlumuran kenangan. Yang paling aku ingat dari kepulangan ku kali ini adalah pertemuan ku dengan mu.

Sudah lama sekali ya? Dari rumah aku menyiapkan diri sedemekian rupa agar saat bertemu dengan mu nanti, aku terlihat bahagia. Aku ingin meyakinkan mu, bahwa tanpa mu berapa tahun ini aku baik-baik saja. Kan ku bawa kan kau bunga dan senyum paling indah yang kupunya.

Sesampainya di tempat pertemuan kita, otak ku dibanjiri wajah mu, tawa mu, marah mu, kenangan tentang mu, tentang kita. Berputar otak ku memikirkan kata apa yang pertama akan ku ucapkan di depan mu.

Dari kejauhan aku sudah melihatmu. Di benak ku, kau mengenakan pakaian terindah mu. Tersenyum. Indah sekali.

7 langkah dari mu, kaki ku menyerah. Segala skenario di otak ku hilang. Kepala ku sakit bukan kepalang. Aku ingin tersenyum tapi yang keluar hanya air mata yang berkhianat. Aku hanya bisa diam sambil memberikan bunga yang telah ku beli untuk mu.

Aku ingin bercerita panjang lebar, tapi waktu tidak memungkinkan. Pertemuan kita kali ini sebentar, tapi rindu ku sudah cukup tersampaikan. Aku menangis bukan karena hidup ku tak baik-baik saja tanpa mu. Bukan pula aku cemburu kau sudah bahagia bersama-Nya. Ku usap nama di nisan mu, lembut.

Aku jalani hidup ku lagi ya. Masih banyak yang harus ku selesaikan. Mimpi mu, mimpi ku. Walau entah di sana masih ada yang menunggu ku atau tidak. Aku tetap harus kembali ke sana, Jakarta. Kota penuh dengan kata mencoba.

Bandara Sultan Mahmud Badarudin II

27 September 2015 ; 8:47 pm

Kriteria

Lima tahun yang lalu, aku sampai pada titik di masa dalam memilih pasangan hidup aku tidak bisa lagi berkompromi dengan…yang sesumbar setia, namun dengan bangga masih menganut prinsip kucing mana yang menolak ditawari ikan asin. Berlagak besar hati, tapi ego nya langsung terluka kalau didebat pendapatnya oleh seorang perempuan. Katanya berani, tapi langsung mengkeret ketika diajak ngobrol tentang masa depan… lalu Tuhan menjatuhkan Ale. Yang ketika sedang bersama ku, seluruh perhatian nya dia berikan buat ku, tidak pernah iseng melirik kanan kiri. Yang jika tidak sedang bersama ku, waktunya paling dihabiskan untuk olahraga dan bermain. Yang tidak ngotot jika kami berdebat, namun menanggapi ku dengan kalem. Yang tidak sabar menjadikan aku bagian masa depan nya.

Kutipan dari Novel karya Ika Natasha yang berjudul Critical Eleven ini merangkum hampir semua hal yg diidamkan perempuan pada diri seorang laki-laki.

Ciri khas lelaki idaman Ika ini, kalem, ganteng, tapi nggak ngerasa dirinya ganteng, punya penghasilan yang gak habis dimakan 7 turunan, nakal cuman ke pasangan, selalu mengagumi pasangannya, aish sudahlah. Makin ditulis makin bercampur, ini idaman Ika apa aku? Haha.

Setiap orang punya kriteria ingin punya pasangan seperti apa. Tapi banyak bilang, kriteria itu ga berkutik di depan nyaman. Buat ku, nyaman udah nggak jaminan. Untuk ku yg banyak maunya ini, banyak hal yg lebih penting dari sekadar nyaman. Untuk ku yg keras ini, aku butuh ketenangan.

Dan kunci ketenangan adalah, menghargai yang menghargai, peduli pada yg peduli, khawatir pada yg khawatir, baik pada yg baik, cinta pada yang cinta, dan setia pada yg setia.

Jadi kriteria ku bila dirangkum hanya satu : Yang bisa membuat ku tenang.